suplemenGKI.com

2 Tesalonika 1:3-12

 

Perjumpaan dalam Pergumulan

 

Pengantar
Apabila kita sedang dalam perjalanan kemudian ada sebatang pohon yang roboh dan melintang di jalan yang kita lalui, tentunya perjalanan kita akan terhambat. Perjalanan hidup kita kadang juga tidak sesuai dengan rencana kita. Lalu, bagaimana kita menyikapi situasi tersebut? Jemaat Tesalonika memberikan teladan yang luar biasa.

Pemahaman

- Dapatkah Saudara memberikan gambaran tentang kehidupan sebuah komunitas yang memiliki iman dan kasih yang kuat?

- Hal apa saja yang terkait dengan iman dan kasih Jemaat Tesalonika sehingga membuat rasul Paulus wajib mengucap syukur kepada Allah?

Sungguh luar biasa. Rasul Paulus menggunakan sebuah istilah yang sangat kuat, “wajib” untuk menggambarkan respon yang seharusnya muncul tatkala mengetahui tentang iman dan kasih Jemaat Tesalonika. Istilah “wajib” ini menunjukkan bahwa tidak ada pilihan lain selain mengucap syukur.

Berada di dalam komunitas yang memiliki iman dan kasih yang kuat tentulah suatu hal yang menyenangkan. Pergumulan hidup kadang memang dapat menggoyahkan iman kita. Namun kalau orang-orang yang ada di sekitar kita memiliki iman yang kuat, pastilah kita memperoleh kekuatan daripadanya. Mungkin sebagian dari komunitas tersebut akan mendukung kita di dalam doa, sedangkan sebagian lagi memberikan dorongan agar kita tidak jemu berdoa serta berharap akan Tuhan. Sementara itu ada sebagian lainnya lagi mengunjungi dan membacakan ayat-ayat Firman Tuhan yang menyatakan janji pertolongan dan penyertaan Tuhan. Sungguh suatu hal yang indah bila komunitas kita seperti gambaran tersebut. Apalagi kalau komunitas tersebut juga penuh kasih. Dalam komunitas yang penuh kasih, kita akan saling mempedulikan, saling mendukung, saling menguatkan.

Akan tetapi, apakah kita sungguh-sungguh senang hidup di tengah-tengah Jemaat Tesalonika yang bertumbuh dalam hal iman dan kasih itu? Mungkin jawabannya adalah belum tentu. Sebab Jemaat Tesalonika adalah Jemaat yang mengalami penganiayaan dan penderitaan. Bahkan sejak “kelahiran”nyapun Jemaat Tesalonika sudah mengalami penganiayaan. Keadaan yang demikian ini tentu membuat hidup kita tidak nyaman. Namun Jemaat Tesalonika semakin merambat ketika mereka dibabat. Penganiayaan itu membuat mereka semakin bersandar kepada Tuhan. Penderitaan itu membuat mereka semakin saling mempedulikan satu sama lain.

Refleksi
Seringkali kita berkeluh kesah atas berbagai macam kesulitan hidup yang kita alami, atau yang terjadi di sekitar kita. Sesungguhnya sikap berkeluh kesah itu menandakan bahwa kita tidak memahami rencana Allah ketika mengijinkan hal itu terjadi. Kita gagal melihat kuasa Allah yang sedang melatih kita untuk memiliki iman dan kasih yang kuat melalui berbagai macam pergumulan tersebut, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Jemaat Tesalonika.

Tekad
Doa: Ya Tuhan, tolonglah saya untuk dapat memahami kehendak dan rencana-Mu ketika menghadapi pergumulan ini. Tolonglah saya untuk semakin bertumbuh dalam iman dan kasih sewaktu bergumul mencari jalan keluar atas berbagai macam persoalan hidup ini. Amin.

Tindakan
Salah satu wujud upaya meneladani Jemaat Tesalonika adalah dengan mengunjungi paling sedikit dua orang saudara seiman yang sedang sakit, serta membacakan ayat yang dapat menguatkan imannya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*