suplemenGKI.com

Sabtu, 2 Maret 2013

01/03/2013

Lukas 13:1-5

 

Pelajaran dari Tragedi Hidup

 

Pengantar
Tidak sedikit orang yang menghubungkan cara meninggalnya seseorang dengan kualitas hidup orang itu. Bila seseorang meninggal dengan cara yang tragis, hal itu dianggap sebagai pertanda bahwa orang tersebut hidupnya tidak baik. Begitu pula sebaliknya. Hari ini perenungan kita akan bermula dari 2 (dua) buah tragedi kehidupan. Melalui perenungan ini kita akan belajar bagaimana memandang sebuah tragedi dalam kehidupan ini.

Pemahaman
ay. 1; Apakah 2 (dua) peristiwa yang disebutkan dalam bacaan kita hari ini? Apakah Saudara setuju bila dikatakan bahwa kedua peristiwa itu adalah peristiwa yang tragis? Mengapa?

ay. 5; Apakah maksud Kristus ketika mengatakan, “jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian”?

Sebuah peristiwa yang tragis biasanya menarik untuk dibicarakan. Nampaknya itulah yang terjadi dalam diri beberapa orang yang datang kepada Kristus. Ketika ada orang-orang Galilea yang datang ke Bait Allah untuk mempersembahkan korban, tapi malah menjadi korban pembunuhan Pilatus dan darahnya dicampur dengan darah korban yang mereka persembahkan, mereka segera membawa kabar itu kepada Kristus untuk mendapatkan respon. Melalui pernyataan Kristus di ayat 2, kita dapat menduga bahwa mereka datang dengan anggapan bahwa tentulah orang-orang Galilea yang terbunuh itu adalah para pendosa besar. Betapa tidak, orang-orang itu datang untuk mempersembahkan korban, tetapi malah jadi korban pembunuhan. Mempersembahkan korban bisa dilihat sebagai mencari pendamaian dengan Allah. Tapi menjadi korban bisa dilihat sebagai mendapatkan murka Allah.

Respon yang diberikan Kristus sungguh mengejutkan. Ungkapan “Sangkamu” mengindikasikan bahwa Kristus tidak membenarkan anggapan itu. Kristus juga menimpali cerita yang mereka bawa dengan cerita lain, tentang delapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam. Ini juga adalah tragedi. Siloam identik dengan penyembuhan. Dapat diduga bahwa mereka yang datang atau berada di Siloam adalah orang yang ingin mendapatkan kesembuhan. Tapi dalam tragedi itu, bukan kesembuhan yang didapat, melainkan kematian. Namun sekali lagi, Kristus tidak sependapat bila tragedi ini pertanda bahwa mereka yang mati itu memiliki kehidupan yang tragis. Dengan tegas Kristus berkata, “Tidak! kata-Ku kepadamu.” (ay. 3, 5).

Melalui dua kisah yang tragis tersebut, Kristus memanggil orang untuk bertobat. Sebagai manusia berdosa, pada dasarnya kita berada di bawah murka Allah.” Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman” (Ro. 1:18). Kristus pernah menegaskan bahwa murka Allah ada atas mereka yang tidak mau taat kepada Anak (Yoh. 3:36). Pengajaran ini juga digemakan rasul Paulus, di mana ia berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (Roma 8:1).

 

Refleksi
Sebagai manusia berdosa, kita pantas untuk binasa dengan cara yang paling tragis, yaitu kebinasaan kekal. Karena itu, bila ada orang yang mengalami tragedi dalam hidupnya, kita dapat menggunakannya sebagai kesempatan untuk merenungkan kehidupan kita, bukan mempergunjingkan seberapa besar dosa orang tersebut.

 

Tekad
Karena itu mari kita bertekad untuk tidak memandang rendah orang yang mengalami tragedi dalam hidupnya.

 

Tindakan
Tekad tersebut dapat kita wujudkan dengan mengunjungi mereka yang sedang dalam pergumulan, guna mengasah empati kita.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«