suplemenGKI.com

Hidup Tanpa Mengenal Allah Berarti Hidup Tanpa Pengharapan

Yohanes 1:1-13

 

Pengantar

Di hari kedua tahun 2021 ini kita akan merenungkan bagaimana agar kita tetap memiliki kehidupan yang berpengharapan. Dalam nas bacaan kita hari ini membicarakan sumber kehidupan yang berpengharapan tersebut. Oleh sebab itu mari kita renungkan bersama.

Pemahaman

-  Apa saja yang dapat Saudara ketahui tentang terang dalam teks bahan perenungan kita hari ini?

-  Mengapa Penulis Injil Yohanes berbicara tentang terang?

Penulis Injil Yohanes mengawali kitabnya dengan berbicara tentang Allah. Hal ini sangat penting sebab Allah adalah permulaan dari segala sesuatu. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (ay. 3). Injil Yohanes bukan hanya menyatakan Allah sebagai sumber dari segala sesuatu, tetapi juga sebagai sumber kehidupan. “Dalam Dia ada hidup …” (ay. 4a). Pernyataan ini menegaskan kembali apa yang disampaikan Pemazmur, “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang” (Maz. 36:10). Dan hidup yang ada di dalam Allah itu “adalah terang manusia” (ay. 4b). Ini merupakan suatu pernyataan yang sangat penting, khususnya pada zaman itu dimana bangsa Yahudi secara fisik sedang berada di dalam penindasan dan secara rohani tidak lagi menerima suara Allah. Mereka benar-benar hidup dalam kegelapan baik secara fisik maupun rohani, hidup dengan tanpa pengharapan.

Sedemikian gelapnya kehidupan bangsa Yahudi pada waktu itu sehingga ketika terang itu hadir di antara mereka, mereka tetap tidak dapat mengenalinya. Kehadiran terang itu tidak dengan diam-diam. Allah mengirim utusan untuk mewartakan kehadiran terang itu. “Datanglah seorang yang diutus Allah …… ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu” (ay. 6-8). Pewartaan itu bukanlah suatu hoax, bukan suatu kabar bohongan, melainkan kabar sungguhan. “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (ay. 9). Sayangnya, sekalipun sudah diwartakan dan kemudian benar-benar dinyatakan, namun tetap saja mereka tidak mengenali serta menolak Sang Terang itu. Mereka diciptakan-Nya, tetapi mereka tidak mengenal-Nya. “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (ay. 11). Penolakan itu membuat bangsa Yahudi tetap tidak mengenal Allah dan hidup dalam kegelapan.

Refleksi:

Apakah kita mengenal Allah yang kita sembah, atau sebenarnya kita seperti orang-orang Yahudi itu? Apakah kita mengenal Allah sebagai sumber kehidupan kita sehingga terus memiliki pengharapan dalam hidup ini, ataukah kita menolak Allah dengan mengabaikan Dia, tidak melibatkan Dia dalam setiap aspek hidup kita sehingga membuat kita hilang pengharapan dalam hidup ini?

Tekadku:

Doa: Tuhan, tolong saya untuk terus rindu mengenal Engkau, Sang Sumber kehidupan ini. Amin.

Tindakanku:

Saya akan meluangkan waktu lebih banyak untuk membaca Alkitab, menyanyikan lagu rohani, dan berdoa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«