suplemenGKI.com

Yakobus 4:1-8.

 

Bersahabat Dengan Dunia Atau Hidup Dalam Kasih Karunia Allah!

Pengantar:
Kehidupan manusia sesungguhnya sangat menyenangkan, betapa tidak, Allah telah menciptakan manusia dengan sangat sempurna bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lain. Manusia memiliki segala hal yang memungkinkannya untuk menikmati hidup ini dengan menyenangkan. Misalnya hawa nafsu yaitu sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seseorang yang berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu obyek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Hawa nafsu dapat berupa  pengetahuan, kekuasaan, karier dan lain-lain. Jadi sesungguhnya hawa nafsu adalah anugerah Allah bagi manusia yang bisa membuat hidup manusia menjadi menyenangkan. Namun seringkali hawa nafsu hanya dikaitkan pada hal yang membelenggu sehingga hidup menjadi tidak menyenangkan.

Pemahaman:

  1. Apakah dampak yang akan terjadi jika manusia dikendalikan oleh hikmat dunia? (v1-3)
  2. Apa yang menyebabkan manusia kemudian dikendalikan oleh hikmat dunia? (v. 4)
  3. Bagaimanakah agar tidak dikendalikan oleh hawa nafsu duniawi/hikmat dunia! (v6-8)

Pada ayat 1-3, Yakobus menjelaskan dengan sederhana apa saja dampak jika hidup

dikendalikan oleh hikmat dunia: Yaitu ada persengketaan, pertengkaran yang dipicu oleh kuatnya keinginan yang bersifat duniawi. Keinginan duniawi bisa dikatakan sebagai hawa nafsu yang tidak terkendalikan. Bukan saja hanya menyebabkan pertengkaran, persengketaan tetapi lebih jauh bisa saling membunuh demi mencapai tujuan. Jika karena ingin mencapai tujuan, lalu harus diperjuangkan dengan saling bertengkar, bersengketa, iri hati bahkan sampai membunuh, maka pastilah tujuan yang diingini itu tidak sesuai dengan kebenaran Allah. Maka sekalipun berdoa untuk mendapatkannya itu tidak akan diberikan oleh Tuhan.

Faktor utama yang menyebabkan manusia dikendalikan oleh hikmat dunia adalah karena ketidaksetiaan kepada Allah kemudian lebih memilih bersahabat dengan dunia. Dunia berbicara tentang segala sesuatu yang bersifat dosa. Maka bersahabat dengan dunia berarti bermusuhan dengan Allah, karena Allah membeci dosa.

Namun ada kabar baik bagi orang yang bebas dari kendali hikmat dunia, tinggalkan hikmat dunia dan berpaling pada kasih karunia Allah. Berpaling pada kasih karunia Allah adalah tunduk atau taat kepada Allah dan mendekat atau hidup dalam kasih karunia Allah, yang disertai dengan menolak setiap bentuk hikmat dunia (dosa).

Refleksi:
Renungkan sejenak, apakah kita sedang bersahabat dengan dunia? Jika iya, saat ini juga tinggalkan dan segeralah berpaling kepada Allah serta hidup dalam kasih karunia-Nya.

Tekad:
Tuhan, tolonglah dan tuntun saya agar lebih memilih hidup dalam naungan kasih karunia-Mu.

Tindakan:
Mulai hari ini aku akan membiasakan diri hidup dalam kasih karunia Allah melalui bersyukur atas apa yang aku terima dari-Nya, agar aku dapat menikmati hidup ini dengan indah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*