suplemenGKI.com

Sabtu, 18 Sept 2021

17/09/2021

Markus 9:33-37

MENJADI PENGUASA ATAU HAMBA?

Pengantar
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membaca dan mendengar berita perebutan kekuasaan. Dari panggung politik bahkan sampai ruang rapat gereja dan kehidupan keluarga. Bagaimanakah kita menyikapi ambisi untuk berkuasa? Marilah kita merenungkannya!

Pemahaman

  • Ayat 33-34 : Apa yang menjadi pemicu pertengkaran para murid?
  • Ayat 35       : Apa nasihat Yesus kepada murid-murid-Nya?
  • Ayat 36-27: Mengapa Yesus memakai ilustrasi anak kecil untuk menegaskan nasihatnya kepada murid-murid?

Refleksi
Ada perbedaan misi hidup Yesus dan para murid-Nya. Hidup Yesus tertuju pada melakukan kehendak BAPA untuk menyelamatkan dan menebus dunia ini. Bahkan dalam misi-Nya itu, Ia rela menderita dan menyerahkan nyawa-Nya.  Sementara para murid masih  berkutat pada kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri hingga mempersoalkan siapa yang terbesar diantara mereka. Mereka mengira bahwa Yesus akan menjadi raja besar. Dan orang yang terbesar dari antara para murid, tentu akan diberi jabatan terbesar dalam kerajaan yang akan didirikan Sang Guru.

Oleh karena mereka berkonsentrasi pada ambisi pribadi maka mereka menjadi tidak memahami  ketika Yesus memaparkan  misi pelayanan-Nya. Yesus membicarakan soal Kerajaan Sorgawi tapi mereka masih berkutat pada cita-cita duniawi.  Untuk itulah Yesus memberikan nasihat untuk meluruskan pemikiran para murid-Nya. Ia berkata, “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” ( Markus 9;35). Bagi Yesus, kehormatan seseorang tidak dilihat dari pangkat dan kedudukan ( kuasa yang dimilikinya ) tapi dari sejauh mana ia melayani sesamanya. Yesus mengajar mereka bahwa kebesaran dalam kerajaan-Nya tergantung dari kesediaan orang untuk melayani orang lain. Bahkan meski yang dilayani itu adalah seorang anak kecil (ayat 36). Dalam budaya Yahudi, anak tidak dianggap penting. Namun Yesus justru menyambut dan memeluk seorang anak dengan tulus dan penuh cinta kasih. Hal ini menegaskan tentang kesediaan merendahkan diri. Bayangkanlah kalau  kita mau dengan tulus mau menyambut anak kecil maka kita akan tunduk atau jongkok agar  tinggi kita setara dengan anak itu hingga dia bisa melihat wajah kita yang penuh kasih dan sukacita menyambutnya.   Ini berarti kita mesti merendah demi melayani si anak.

Ilustrasi ini mengingatkan para murid bahwa kebesaran seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau kekuasaan.  Ambisi dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas dan kekayaan.  Tapi Yesus mengajarkan bahwa kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain agar dipuja dan dimuliakan. Kebesaran kita akan terlihat justru ketika  mau hidup menghamba, melayani dan menjadi berkat bagi sesama.

Refleksi:
Di bulan keluarga ini renungkanlah apakah selama ini Saudara menempatkan diri menjadi penguasa bagi orang lain ataukah menjadi pelayan yang siap melayani keluarga dengan sukacita? Apakah selama ini Saudara menuntut pelayanan dan penghargaan dari anggota keluarga ataukah Saudara menyambut anggota keluarga dengan kerendahan hati seorang hamba ?

Tekadku
Ya TUHAN mampukan aku mengendalikan ambisi untuk berkuasa dengan mempersembahkan hidup sebagai hamba yang siap merendah untuk melayani orang lain dan TUHAN

Tindakanku
Aku akan terus berkomitmen untuk melayani keluarga dengan kerendahan hati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«