suplemenGKI.com

Sabtu, 18 Juli 2020

17/07/2020

Mazmur 86:1-10

MENGAPA BERDOA?

 

PENGANTAR
Frekuensi dan intensitas doa kita sering kali ditentukan oleh keadaan atau kondisi kita. Misalnya, jika kita sakit atau menghadapi kesulitan keuangan, kita akan cenderung lebih sering dan lebih serius berdoa. Sebaliknya, dalam kondisi baik-baik saja, kita akan cenderung lebih jarang dan kurang serius berdoa. Tentu hal ini berpengaruh pada kondisi kerohanian kita secara keseluruhan. Apalagi jika selain berdoa kita tidak memiliki aktivitas lain untuk membangun kerohanian kita. Kita tidak akan memiliki kerohanian yang sehat jika doa kita hanya bergantung pada kondisi kita.

PEMAHAMAN

Ay. 1-7        Apa yang mendorong pemazmur untuk berdoa kepada Tuhan? Apa yang dapat kita ketahui tentang keadaannya? Apa yang membuat pemazmur yakin bahwa Tuhan akan menjawab doanya?

Ay. 8-10      Di bagian ini pemazmur mengungkapkan pemahamannya mengenai kebesaran Tuhan. Apa saja yang diungkapkan pemazmur mengenai kebesaran-Nya.

Pemazmur memohon belas kasihan kepada Tuhan karena kondisinya yang “sengsara dan miskin” (ay. 1), dan kemungkinan nyawanya terancam (ay. 2a, “Peliharalah nyawaku”).  Ada kemungkinan pemazmur juga dalam kondisi tidak berdaya (ay. 3b, “aku berseru sepanjang hari), dan hatinya sangat berduka (ay. 4, “Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita). Sangat mungkin pergumulan pemazmur yang paling berat adalah melawan dosa. Di ayat 5 pemazmur berseru: “Sebab Engkau, … suka mengampuni”. Meski banyak “petunjuk” di ayat-ayat tersebut, kita tidak bisa memastikan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut menggambarkan kondisi sesungguhnya dari pemazmur. Sebagian penafsir berpendapat bahwa istilah-istilah di atas adalah ungkapan yang umum digunakan oleh seseorang yang merendahkan diri di hadapan Allah. Jika demikian, pemazmur berdoa kepada Tuhan bukan hanya karena kondisinya, melainkan karena Pengenalannya akan kebesaran/ keagungan Tuhan. Pengenalannya akan kebesaran Tuhan itulah yang membuat pemazmur percaya bahwa Allah akan mendengar dan menjawab doanya (ay. 6-7).

Keyakinan pemazmur bahwa Allah akan menjawab doanya didasari oleh pemahamannya akan keagungan Allah. Ungkapan “Tidak ada seperti Engkau …” (ay. 8) mengingatkan kita pada nyanyian kemenangan Musa setelah mereka berhasil menyeberangi Laut Teberau dan luput dari kejaran Firaun (Kel. 15:11). Mereka memuji Tuhan atas kebesaran-Nya yang mengatasi dewa-dewa Mesir. Pemazmur yakin bahwa kebesaran Tuhan ini akan diketahui oleh semua bangsa sehingga mereka akan datang sujud menyembah-Nya (ay. 9-10). Jadi, selain mengungkapkan komitmennya untuk beribadah hanya kepada Allah saja, pemazmur juga menyaksikan imannya mengenai kedaulatan universal Tuhan dan rencana penyelamatannya bagi bangsa-bangsa.

REFLEKSI
Doa yang benar didasari oleh pemahaman akan kebesaran Tuhan, bukan didorong oleh kebutuhan-kebutuhan dan keadaan kita.

TEKADKU
Tuhan, aku bersyukur bahwa Engkau selalu terbuka menyambut kehadiranku melalui doa-doaku. Aku percaya bahwa Engkau selalu mendengarkan doa-doaku.

TINDAKANKU
Selama seminggu ke depan, aku akan menyediakan waktu minimal sepuluh menit setiap hari untuk memuji kebesaran Tuhan di dalam doa pribadiku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«