suplemenGKI.com

Efesus 5:1-21

 

Jadilah Anak Allah Yang Hidup Secara Bijak

 

“Buah tak jatuh jauh dari pohonnya” begitu kata pepatah yang artinya sifat-sifat anak pada umumnya tak jauh dari orangtuanya. Sebagai anak-anak yang dikasihi Allah kita juga seharusnya memiliki kemiripan denganNya. Dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus, Rasul Paulus menjelaskan bagaimana anak-anak Allah harus memiliki sikap hidup dalam kasih, kekudusan, terang dan kebenaran, kearifan (hikmat) serta kerendahan hati. Beberapa pertanyaan berikut kiranya memandu kita ketika merenungkan perikop ini.

-  Bagaimana kita seharusnya hidup dalam kasih? (ayat 2)
-  Hal-hal apa saja yang harus kita hindari agar kita bisa hidup dalam kekudusan? (ayat 3-7)
-  Agar dapat hidup dalam terang dan kebenaran, apa yang harus kita lakukan? (ayat 8-14)
-  Bagaimana caranya kita dapat menjadi anak-anak Allah yang arif? (ayat 15-20)
-  Sikap rendah hati seperti apa yang Allah kehendaki? (ayat 21)


Renungan

Baru saja kita memperingati hari kemerdekaan yang ke 67 dari negara dan bangsa kita, Indonesia tercinta.  Usia yang cukup matang bagi sebuah bangsa.  Pertanyaannya apakah kita sudah menjadi bangsa yang bijak? Jawabnya mungkin belum. Betapa setiap hari media massa memberitakan tindak pidana koruspsi yang seakan tak ada habisnya, bahkan makin menjadi-jadi. Peristiwa kawin cerai para selebriti seakan sudah menjadi suguhan informasi dan hiburan (infotainment) sehari-hari bagi khalayak. Keadilan dan kebenaran terasa semakin kabur. Rasa saling menghormatipun semakin pudar. Main polisi dan main hakin sendiri sudah menjadi hal yang umum.

Di tengah-tengah hari-hari yang jahat seperti ini kita dipanggil untuk menggunakan waktu yang ada (ayat 16) dan memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup, bukan seperti orang bebal tetapi sebagai orang yang bijak atau arif (ayat 15).

Sebagai anak-anak Allah yang ditempatkan di bumi pertiwi, kita tidak boleh terseret arus kebebalan, melainkan perlu menunjukkan identitas diri seperti Kristus, yang karena kasihNya rela mengorbankan dirinya. Seberapa besar kerelaan kita untuk berkorban demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa, melalui pelayanan dalam berbagai aspek, seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan lain sebagainya. Komisi Kesaksian dan Pelayanan GKI Residen Sudirman menantikan peran serta kita semua.

Apakah kita juga sudah menjaga diri dari berbagai kecemaran dan keserakahan? Apakah kata-kata yang kita ucapkan masih dibumbui oleh sumpah serapah di sana sini? Rasul Paulus mengingatkan orang-orang semacam ini tidak akan mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Apakah dengan sikap dan tindakan kita, kita telah menjadi terang di hadapan banyak orang sehingga memunculkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan sebagai buahnya? Anak-anak Allah yang dikasihiNya haruslah sanggup menjadi warga negara yang bijak, sanggup memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan, serta saling menghargai dan menghormati dalam takut akan Tuhan. Jika kita bersedia bersikap dan melakukan hal-hal yang menjadi ciri atau sifat yang mirip dengan Allah, maka kita akan dimampukan menjadi teladan bagi anggota masyarakat yang lain di Indonesia. Mau dan siapkah kita?

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«