suplemenGKI.com

Ibrani 10:19-25.

 

“Aku Memberitahu, Karena Aku Mengetahuinya”

Pengantar:
Suatu kali ada seorang bapak yang sedang membersihkan dedaunan di depan bagian luar istana presiden (bukan area istana) Tiba-tiba ada seorang bertanya, “apakah ini istana presiden?” sang bapak dengan antusias menjelaskan bahkan menunjuk beberapa area di halaman istana dan jalan menuju pintu utama istana presiden. Namun ketika orang itu bertanya kepadanya, “apakah bapak sudah pernah masuk ke istana presiden?” dengan tersipu ia berkata “Sudah sepuluh tahun saya bekerja menyapu jalan di depan istana presiden ini, tetapi belum sekalipun saya masuk ke istana presiden” Setiap orang dapat menunjukkan sebuah objek kepada orang lain tetapi tidak dapat membawa orang lain ke objek tersebut. Yesus dapat langsung membawa kita masuk dan berjumpa dengan hadirat Allah, karena Yesus adalah Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

Pemahaman:

  1. Apakah makna pernyataan penulis Ibrani dalam ayat 19-21?
  2. Apakah yang hendak ditekankan melalui ajakan di ayat 22-23?
  3. Apakah tugs kita sebagai orang-orang yang telah mengalami hadirat Allah (v. 24-25)

Dalam Perjanjian Lama, umat Allah tidak memiliki akses langsung ke ruang Mahakudus, mereka diwakili oleh imam besar yang membawa persembahan korban dan itu hanya dilakukan sekali setahun (Ibr 9:7) Tetapi melalui kematian Yesus di kayu salib, Yesus telah menjadi Imam besar yang mempersembahkan tubuh dan darahnya sebagai persembahan korban yang sempurna untuk selamanya (Ibr 10:10-14) sehingga jalan baru itu telah tersedia. Dengan demikian di dalam Yesus Kristus setiap orang percaya dapat secara langsung mendekatkan diri kepada Allah dan mengalami hadirat-Nya. Oleh karena itu bagi setiap kita yang percaya, kapan saja kita dapat menghadap Allah dengan keyakinan iman yang teguh. Tidak perlu lagi ada keraguan, kebimbangan dan ketakutan. Hal itu dapat kita ekspresikan melalui doa-doa, penyembahan-penyembahan, permohonan-permohonan dan pelayanan-pelayanan kita. Sebagai konsekuensi logisnya, ayat 24-25, menekankan agar setiap kita yang sudah mengalami hadirat Allah, harus Saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. Kepedulian, kasih dan kebaikan kita haruslah menyentuh sesama yang lemah, dengan demikian kita telah menuntun sesama kepada hadirat Allah.

Refleksi:
Mari merenung sejenak. Sudahkah saudara mengalami hadirat Allah dalam hidup saudara. Hal itu akan menolong saudara untuk dapat menuntun sesama menikmati hadirat Allah melalui hidup saudara.

Tekadku:
Tuhan, saya bersyukur melalui kasih Kristus saya telah mengalami hadirat-Mu. Saya bertekad agar melalui hidup saya orang lain dapat mengalami hadirat Allah juga.

Tindakkanku:
Saya akan belajar menjadi pintu bagi sesama untuk dapat mengalami hadirat Allah lewat pelayanan dan kesaksian hidup saya sehari-hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*