suplemenGKI.com

Sabtu, 17 Mei 2014

16/05/2014

Yohanes 14:1-3

 

Melawan Kegelisahan dengan Iman

 

Pengantar
Ingatkah Saudara kapan terakhir kali mengalami kegelisahan? Hal apakah yang membuat Saudara gelisah saat itu, dan bagaimana Saudara menghadapi kegelisahan tersebut? Saat teduh hari ini akan menghantar kita pada pemahaman bagaimana menyikapi kegelisahan dalam hidup ini.

Pemahaman
-   Menurut Saudara, apakah yang membuat para murid gelisah, sehingga Tuhan berkata, “Janganlah gelisah hatimu”?
-   Penghiburan seperti apakah yang diberikan Kristus kepada para murid-Nya dalam menghadapi kegelisahan tersebut? 

Dalam perikop sebelumnya dikisahkan bagaimana Kristus telah memberikan sinyal kepada para murid-Nya bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka (ps. 13:34), sehingga memicu Petrus untuk bertanya, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” (ps. 13:36). Suasana perpisahan ini yang nampaknya memicu timbulnya kegelisahan di antara para murid. Mereka akan berpisah dengan Kristus yang selama tiga tahun terakhir ini telah hidup bersama-sama mereka, mengalami suka duka bersama. Pengalaman-pengalaman suka, seperti melakukan berbagai mujizat yang luar biasa, membuat mereka bangga. Sedangkan pengalaman-pengalaman duka, seperti sikap permusuhan yang ditunjukkan para pemuka agama, mereka hadapi dengan biasa saja karena ada Kristus yang begitu berkuasa.

Namun Kristus itu kini akan pergi. “Tinggal sesaat lagi…” kata-kata itu bagai menyayat hati. Maka wajarlah bila para murid menjadi gelisah. Kristus tidak mau membiarkan rasa gelisah itu merajalela. Ia berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”. Apa yang harus dipercaya adalah bahwa Kristus pergi untuk menyediakan yang terbaik bagi para murid-Nya. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Melalui perpisahan yang sementara itu mereka akan bersama Kristus untuk selamanya, “supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”.

Selama berada di dunia, sudah barang tentu Kristus dan para murid-Nya memiliki tempat untuk tinggal bersama-sama, menjalani hidup bersama-sama. Akan tetapi apa yang dapat kita harapkan dari sesuatu yang fana. Semakin indah kelihatannya, semakin menyakitkan saat semuanya sirna. Itulah realita atas apa yang fana. Karenanya Kristus menyediakan yang jauh lebih berharga, yang ada di dunia baka. 

Refleksi
Ketika Allah mengijinkan sesuatu yang kita anggap indah atau berharga menjadi sirna, kita menjadi gelisah. Sulit bagi kita untuk percaya bahwa Allah sedang menyediakan sesuatu yang jauh lebih berharga. Dalam situasi yang demikian, kita harus tetap ingat nasihat Kristus, “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk selalu percaya, bahwa Engkau selalu menyediakan yang terbaik. Amin.

Tindakan
Saya akan menyenandungkan lagu S’mua Baik pada waktu pagi (mau berangkat kerja) dan pada waktu sore (sepulang kerja).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«