suplemenGKI.com

Sabtu, 17 Juni 2017

16/06/2017

Roma 15:4-8

Allah Sumber Kerukunan

Pengantar:
Beberapa waktu belakangan ini nuansa kerukunan, semangat persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang telah terjalin sejak kemerdekaan NKRI sedikit terusik oleh upaya segelintir orang atau kelompok tertentu yang ingin memporak-porandakan NKRI dengan paham maupun ideologi radikalismenya yang tidak jelas dengan mengatasnamakan agama dalam pengertian yang salah kaprah. Namun demikian, NKRI yang telah mengakar dengan semangat persatuan, persatuan dan kegotong-royongan di tengah-tengah keberagaman di bahwa falsafah Bhineka Tunggal Ika tentu tidak bisa begitu saja bisa digoyahkan oleh paham-paham dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang bertujuan hanya mencari sensasi murahan belaka. Maka kita bisa menyaksikan semangat memperkokoh kebersamaan, kerukunan dan kesatuan dalam keberagaman tumbuh di mana-mana dalam bentuk seribu lilin, komunikasi kebangsaan dan berbagai kegiatan kebersamaan dalam keberagaman di seantero bumi NKRI. Kerukunan memang indah, walaupun di tengah-tengah keberagaman.

Pemahaman:

  1. Dari manakah sumber kerukunan yang sejati menurut Paulus? (v. 4-5)
  2. Apa yang terjadi jika umat Tuhan memiliki kerukunan dari Allah? (v. 6-8)

Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan, apapun bentuknya bisa menjadi ancaman terhadap sebuah kerukunan. Kemarin kita sudah mempelajari bahwa Paulus menekankan agar yang kuat menanggung yang lemah, di situlah akan terjadi transfer kasih Tuhan yang nyata dalam hidup yang beragam menuju kerukunan. Hari ini kita diajak untuk memahami bahwa sumber kerukunan yang sejati itu berasal dari Tuhan. Dalam ayat 4-5 merupakan dua bagian yang saling memperkuat dan melengkapi pernyataan Paulus bahwa kerukunan yang sejati itu berasal dari Allah. Melalui pernyataan di ayat 4-5 itu Paulus hendak menekankan dengan tegas bahwa jika umat ingin memiliki hidup rukun satu dengan lain, maka harus memiliki Allah dalam hidupnya, di luar Allah kerukunan hanya bersifat semu. Umat yang memiliki kerukunan dari Allah, ia akan mampu hidup sehati dalam kebersamaan sekalipun terdiri dari keberagaman. Semangat saling menerima satu dengan yang lain itu di dorong oleh kasih, sesuai dengan kasih dari Allah yang telah dimilikinya. Menerima satu dengan yang lain dalam keberagaman berarti siap hidup berbagi, siap hidup bersama dan saling membangun satu dengan yang lain, bukan saling bermusuhan dan membenci seperti yang dipertontonkan oleh dunia yang tidak memiliki kasih Allah dalam hidupnya.

Refleksi:
Marilah kita sebagai sesama umat Tuhan hidup saling menerima, saling berbagi dan saling membangun satu dengan yang lain berdasarkan kasih Kristus yang telah menyelamatkan kita.

Tekadku:
Tuhan, mampukanlah aku untuk menerjemahkan kerukunan dengan kasih yang tulus kepada sesama, agar dunia tahu bahwa aku ini murid-Mu.

Tindakkanku:
Belajar memandang perbedaan bukan sebagai lawan tetapi sebagai kawan, maka di sanalah Tuhan Yesus dimuliakan melalui hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*