suplemenGKI.com

Sabtu, 17 Juli 2021

16/07/2021

AKU YANG DAHULU

Efesus 2:11-12

 

PENGANTAR
Mengingat siapa diri di masa lalu tidaklah selalu bermakna negatif.  Siapapun kita dan pengalaman apapun dalam perjalanan hidup selalu bisa memberi pelajaran yang baik dan berharga.  Bacaan kita hari ini menunjukkan bagaimana rasul Paulus mengajak jemaat Efesus untuk melihat siapa diri mereka dulu sebelum mengenal Kristus.  Mengapa Paulus mengingatkan masa lalu jemaat Efesus?  Mari kita merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Bagaimana Paulus mengingatkan jemaat Efesus tentang hal-hal lahiriah terkait dengan adat-istiadat sebagai bangsa? (ayat 11)
  • Bagaimana terkait dengan hal-hal rohani sebagai orang percaya? (ayat 12)
  • Saat melihat masa lalu siapa diri kita di hadapan Tuhan, apa yang patut kita syukuri?

Melalui suratnya, dengan sengaja rasul Paulus mengajak jemaat Efesus melihat siapa diri mereka di masa lalu, tentu saja bukan untuk berpuas diri.  Dengan mengingat masa lalu, Paulus mengajak mereka semakin menyadari perubahan yang telah Allah kerjakan dalam hidup mereka. Kesadaran itu diharapkan bisa membuka mata rohani mereka betapa ajaibnya kasih karunia Allah.  Sehingga jemaat Efesus mampu menghargai karya Allah itu dengan mempersembahkan hidup bagi-Nya, tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang menjauhkan dari kasih karunia Allah itu.

Di ayat 11-12 ini rasul Paulus menuliskan beberapa kebenaran tentang keadaan jemaat Efesus sebelum di masa lalu.  Pertama: Jemaat Efesus dahulu tanpa Kristus.  Jika tanpa Kristus maka semua berkat-berkat dan pekerjaan Allah melalui Kristus tidak dapat dialami.  Mereka tidak mengenal Kristus.  Kedua: Jemaat Efesus dahulu tanpa kewargaan.  Mereka dikatakan tidak termasuk warga negara Israel.  Memang menjadi Kristen tidak berarti menjadi warga negara Israel. Lalu apa maksudnya?  Ungkapan ini menunjukkan bahwa mereka dahulu tidak hidup di bawah pemerintahan Allah.  Semua hukum-hukum Allah yang mengatur umat-Nya tidak mereka kenal.  Dan dahulu jemaat Efesus bukan termasuk anggota kerajaan Allah.

Ketiga: Jemaat Efesus dahulu tanpa perjanjian.  Allah tidak mengikat perjanjian dengan mereka seperti Allah mengikat perjanjian dengan Israel.  Sehingga janji-janji sebagai umat perjanjian tidak berlaku dalam hidup mereka.  Keempat: Jemaat Efesus dahulu tanpa pengharapan.  Mereka tidak memiliki pengharapan bahwa suatu hari Allah akan menjadikan mereka umat-Nya.  Dulu mereka hidup tanpa pengharapan untuk bisa menjadi umat Allah.  Kelima: Jemaat Efesus dahulu tanpa Allah.  Mereka menyembah banyak allah yang tidak bisa menyentuh dengan kasih-Nya.  Yang pasti, relasi pribadi dengan Allah yang hidup, yang bisa dirasakan dan dialami secara nyata, itupun hanya terjadi di dalam Kristus.

Sesungguhnya siapa jemaat Efesus dahulu, itulah gambaran setiap kita jika tidak menyambut kasih karunia-Nya.  Inisiatif menyapa, memanggil dan mengadakan perubahan dalam hidup kita yang dahulu menjadi yang sekarang, sebagai murid-Nya, hanyalah karena kasih karunia-Nya atas hidup kita.  Mari dalam keadaan apapun hari ini, ingatlah semua perubahan yang telah Allah lakukan di dalam hidup kita masing-masing. Setiap kita berharga di hadapan-Nya.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Siapa hidup kita dahulu?  Sesungguhnya perubahan hidup telah Dia kerjakan dalam kasih karunia-Nya.  Apakah orang-orang di sekitar melihat perubahan dalam diri kita? 

TEKADKU
Tuhan, terimakasih atas kasih karunia-Mu dalam hidupku.  Tolonglah agar kami menghargai kasih karunia-Mu itu dengan mengupayakan perubahan demi perubahan diri seperti yang Engkau inginkan.  

TINDAKANKU
Hari ini aku mau menuliskan hal-hal yang ‘tidak baik’ dalam diriku.  Aku mau berubah, sebagai wujud syukurku atas kasih karunia-Nya dalam hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«