suplemenGKI.com

Dasar Kesatuan Gereja

Jemaat Korintus berasal dari berbagai latar belakang sosial dan budaya. Kemajemukan ini menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka, tetapi di pihak lain juga merupakan potensi masalah apabila tiap orang tidak menghargai keberbedaan yang ada. Sehingga kebutuhan akan kesatuan menjadi sangat terasa pada waktu itu. Karena itu Paulus menasihati jemaat Korintus untuk bersatu dengan dasar pemikiran kristiani yang tepat dan menggunakan kemajemukan mereka untuk membangun gereja/jemaat di Korintus untuk kepentingan pekerjaan Tuhan.

  1. Ayat 2: Bagaimana Paulus membandingkan keadaaan mereka dahulu dengan sekarang?
  2. Ayat 3: Hasil pekerjaan siapakan seseorang akhirnya dapat mengaku Yesus adalah Tuhan?
  3. Ayat 3: Apa yang tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang dikuasai Roh Allah?
  4. Berdasarkan penjelasan Paulus di ayat 1-3, maka apa yang pertama-tama harus menjadi dasar untuk membangun kesatuan jemaat yang berbeda-beda?
  5. Bagaimana Anda mempraktekkan dasar kesatuan tersebut dalam kehidupan Anda bergereja? (dengan sesama anggota gereja setempat maupun dengan gereja lain)

Renungan

Paulus mengontraskan pengalmaan mereka dulu sebagai para penyembah berhala yang tidak bertobat dengan pengalaman mereka sekarang sebagai orang Kristen. Dulu mereka menyemabh berhala-berhala yang mati, tetapi sekarang mereka menjadi milik Allah yang hidup.  Berhala-berhala mereka tidak pernah berbicara kepada mereka, tetapi Allah dapat berbicara kepada mereka melalui RohNya.

Hanya melalui RohNya seseorang dapat mengakui secara jujur bahwa Yesus adalah Tuhan. Jadi iman itu tidak dihasilkan karena karya pribadi seseorang, melainkan karena Roh Allah yang bekerja dalam diri orang tersebut. Hal ini berarti juga bahwa seseorang yang dikuasai Roh Allah tidak mungkin menyatakan sesuatu yang mendukakan hati Allah seperti penyangkalan terhadap Allah, atau berkata, “Terkutuklah Yesus!”  Dengan kata lain, orang yang hidup dalam kuasa Roh Allah akan hidup sesuai dengan tuntunan Allah dan menghasilkan karya atau perkataan yang sesuai dengan kehendak Roh Allah, bukan yang sebaliknya.

Paulus menjelaskan ini semua (ayat 1-3) dalam rangka seruan nasihat untuk bersatu. Tiga ayat ini mengungkapkan apa yang seharusnya dimiliki orang Kristen untuk membangun persatuan gereja. Kesatuan itu pertama-tama harus dibangun dan dimiliki karena kita mengakui Tuhan yang sama, dan ‘lahir’ dari Roh yang sama. Jika Yesus Kristus benar-benar menjadi Tuhan dalam kehidupan kita, maka seharusnya ada kesatuan dalam jemaat. Perpecahan dan perselisihan di antara umat Tuhan menunjukkan keegoisan masing-masing dan kegagalan umat/gereja untuk hidup sesuai dengan tuntunan Kristus, Sang Kepala Gereja.  Sebab jika Kristus tetap diakui dan dihayati sebagai Kepala Gereja, maka segala kiprah pelayanan, sepak terjang umat/gereja tidak lari dari koridor pengagungan Kristus, bukan pengagungan diri sendiri atau gereja setempat.

Perpecahan dan perselisihan yang terjadi di antara umat Allah pada akhirnya hanya akan melemahkan kesaksian kita sebagai orang Kristen terhadap dunia yang tersesat. Sekali lagi itu menunjukkan kegagalan kita/gereja untuk menjadi mandataris misi Allah bagi dunia. Karena itu mulailah sebagai satu pribadi dalam sebuah persekutuan/gereja untuk membangun kesatuan atas berbagai kemajemukan yang ada dengan dasar bahwa kita menyembah dan meninggikan Tuhan yang sama, Kristus.

Kepala yang sama, Tuhan yang sama menjadi dasar kesatuan gereja yang tidak boleh ditawar lagi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*