suplemenGKI.com

Matius 15:21-28

TELADAN YESUS

 

Pengantar
Beragam konflik yang masih sering terjadi di Indonesia, membuktikan bahwa Indonesia sebagai bangsa belum sepenuhnya mampu menerima dan menempatkan perbedaan sebagai bagian yang indah dalam hidup kebersamaan.  Benarkah berbeda itu masalah?  Mari kita belajar dari sikap Yesus terkait dengan perbedaan.

 

Pemahaman
Ayat 21, 22:  Siapa wanita itu dan apa yang diinginkannya dari Yesus?

Ayat 23:  bagaimana respons Yesus dan para murid digambarkan dalam bagian ini?

Ayat 24, 26: apakah Yesus bermaksud menolak wanita ini?

Ayat 28:  bagaimana respons Yesus selanjutknya?  Bertentangankah dengan ayat 23?

 

Membaca ayat 23, khususnya respons Yesus, terkesan tidak ada kepedulian yang Ia berikan kepada wanita Kanaan itu.  Apalagi bila menghubungkannya dengan ayat 26, yang mana Yesus menyamakan wanita Kanaan itu dengan “anjing” membuat kita berkesimpulan sama.  Bukan hanya tidak peduli, tetapi sangat merendahkan wanita.  Tetapi apakah benar demikian faktanya?  Tidak!  Sebenarnya ini adalah metode pengajaran Yesus yang secara tidak langsung hendak mengungkap persoalan pada konteks masyarakat ketika itu.  Orang Yahudi masa itu sangat diskriminasi terhadap wanita, anak-anak, etnis dan orang yang berkeyakinan lain.  Bagi orang Yahudi, yang lain tidak akan pernah lebih tinggi dari pria dan Yahudi (bdk. dg. Yoh. 4:9, 27).

 

Itu sebabnya, Yesus melakukan perlawanan dengan sengaja “tidak menjawab” (ay.23) dan memancing respons para murid dengan mengajukan pernyataan seperti di ayat 24 dan 26;  seolah Yesus sepakat dengan pandangan masyarakat.  Pancingan Yesus berhasil mengungkap fakta.  Para murid meminta agar wanita itu diusir.  Yesus tidak mengikuti permintaan tersebut.  Yang terjadi sesungguhnya adalah Yesus sedang melakukan sindiran terhadap cara pandang yang sempit itu.  Di depan para murid, Yesus memberikan teladan bahwa berbicara dengan yang berbeda (jenis kelamin, etnis, dan keyakinan) tidak pernah menjadi persoalan.  Apalagi dengan gamblang Yesus mengakui iman wanita Kanaan itu, “hai ibu, besar imanmu” (ayat 28).  Sikap dan perkataan Yesus bukan hanya meluruskan pengajaran yang salah, tetapi juga menegaskan bahwa sejak awal Allah tidak pernah membeda-bedakan orang.  Perbedaan apapun tidak boleh menjadi kendala bagi seseorang untuk datang kepada Allah.  Kiranya teladan Yesus ini menjadi panggilan bagi setiap kita untuk berani merayakan perbedaan dengan penuh kasih dan penerimaan kepada sesama.

 

Refleksi
Yang terpenting bukan seberapa besar perbedaannya, tetapi seberapa besar kita mau menerima orang lain.

 

Tekadku
Aku mau melanjutkan teladan Yesus dalam hidupku.

 

Tindakanku
Aku mau terus belajar menyatakan kasih kepada siapapun yang dalam keadaan apapun.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«