suplemenGKI.com

Sabtu, 14 Juli 2018

13/07/2018

Markus 6:14-16

 

“Mendengar tentang Yesus”

Pengantar:
Mendengar saja tidaklah cukup untuk mengetahui sesuatu dengan jelas dan benar. Maka harus ada langkah selanjutnya yaitu melihat kemudian mengenali dan merasakan apa yang di dengar itu. Misalnya, ketika kita mendengar orang bercerita tentang sebuah restoran yang menyajikan berbagai jenis menu makanan yang lezat-lezat, untuk memastikan kebenarannya maka kita harus mendatangi dan melihat menu apa saja yang disediakan di sana lalu kemudian menikmati makanan yang ada di restoran tersebut, setelah itu kita baru bisa membuktikan kebenaran cerita orang tentang restoran itu. Hari ini kita akan menelusuri apa yang di dengar oleh raja Herodes tentang Yesus dan apa pandangannya tentang Yesus.

Pemahaman:

1)      Dari manakah raja Herodes mendengar tentang nama Yesus (v. 14)

2)      Siapakah Yesus menurut raja Herodes maupun orang lain? (v. 15-16)

Tidak bisa dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu dan semakin banyak karya pelayanan yang dilakukan oleh Yesus, maka pasti semakin luas berita tentang Yesus, dengan demikian maka semakin banyak juga orang yang mendengar nama-Nya, tidak terkecuali raja Herodes yang berkuasa saat itu pun juga mendengar tentang Yesus. Namun rupanya Herodes belum pernah berjumpa secara langsung dengan Yesus, dia mengetahui tentang Yesus hanya sebatas mendengar dari pihak lain. Pengetahuan yang demikian tentu sangat berpotensi keliru menyimpulkan tentang siapa Yesus yang sebenarnya. Itulah sebabnya kemudian Herodes termasuk orang-orang yang ada di sekitarnya mengatakan bahwa Yesus adalah “Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia” (v. 14) Bahkan ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Elia, yang lain lagi mengatakan “Dia adalah seorang nabi sama seperti nabi-nabi terdahulu” (v. 15)

Kesimpangsiuran informasi tentang siapa Yesus rupanya mendorong Herodes untuk menyimpulkan tentang siapa Yesus menurut pikirannya sendiri, dengan berkata: “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya dan yang sudah bangkit lagi” (v. 16) Herodes memakai otoritasnya sebagai seorang raja untuk memaksa dan menekan orang lain agar menerima pendapat atau kesimpulannya yang tidak benar. Saudara, tidak sedikit kekacauan dan kehancuran terjadi karena ada orang-orang yang merasa berkuasa yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain tanpa peduli apakah kehendaknya itu benar atau salah.

Refleksi:
Mari merenung sejenak. Siapakah kita ini sehingga kita merasa berhak untuk memaksakan kehendak kita agar orang lain menuruti dan mengakuinya, tidak peduli bahwa ternyata kehendak kita itu sesungguhnya akan membawa kekacauan dan kehancuran!

Tekad:
Ya Tuhan, Engkau mempercayai saya untuk menjadi penyuara kebenaran, namun justru kesalahanlah yang saya pertahankan demi kehendak sendiri, ampunilah saya ya Tuhan.

Tindakkan:
Saya mau belajar rendah hati agar tidak cenderung memaksakan kehendak saya kepada orang lain, karena belum tentu apa yang menjadi kehendak saya itu adalah suatu kebenaran. Satu-satunya kebenaran adalah tunduk dan taat kepada kehendak Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«