suplemenGKI.com

Sabtu, 13 Juni 2020

12/06/2020

MENGALAMI KASIH ALLAH

Roma 5:1-8

 

Pengantar
Penderitaan terkadang dapat membuat kita sebagai orang-orang Kristen bisa meragukan kasih Allah. Khususnya ketika kita sedang bergumul dengan kebaikan dan keadilan Allah pada saat kita mengalami penyakit, kesendirian, kekecewaan, kemiskinan dan berbagai bentuk penderitaan yang lain. Benarkah penderitaan berarti ketidakadaan kasih dan kebaikan Allah? Mari kita renungkan melalui penjelasan Paulus kepada jemaat di Roma.

Pemahaman

  • Ayat 1-2 : Apakah hasil dari pembenaran iman yang kita dapatkan dari Allah?
  • Ayat 3-5 : Apakah yang Paulus ajarkan tentang kesengsaraan/penderitaan?
  • Ayat 6-8 : Bagaimana cara Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita?

Dalam surat yang ditulis Paulus kepada jemaat yang ada di Roma, Paulus menjelaskan bahwa kita yang telah dibenarkan oleh iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena pembenaran itu, kita bisa memperoleh kasih karunia dan bermegah dalam pengharapan (Ay. 1-2).

Selain itu Paulus juga mengatakan bahwa bukan hanya itu saja, tetapi kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan. Paulus mengajarkan bahwa kesengsaraan merupakan sarana pembuktian kasih Allah jika penderitaan itu disikapi dengan sikap yang tepat (Ay. 3-5). Penderitaan akan mendewasakan karakter kita, sehingga pada akhirnya bisa mengokohkan pengharapan kita kepada Allah. Dari kesengsaraan menuju ketekunan, tahan uji dan pengharapan. Dalam ungkapan yang sederhana, iman seseorang menjadi matang melalui kesengsaraan/penderitaan. Bagi Paulus, kepastian pengharapan tidak hanya ditentukan oleh respon kita yang tepat terhadap kesengsaraan saja. Yang terpenting di sini adalah apa yang dilakukan oleh Allah kepada kita. Kasih Allah yang memastikan bahwa pengharapan kita tetap teguh. Di ayat 5 Paulus berkata: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Paulus beberapa kali menjelaskan bahwa kasih Allah dibuktikan melalui peristiwa kematian Kristus bagi kita. Tidak ada kebaikan lain yang dapat merampas kasih Kristus. Tidak ada kesusahan atau keburukan apapun dalam hidup kita yang bisa mengubah kenyataan bahwa Kristus telah memberikan nyawa-Nya bagi kita. Kita dahulu orang yang lemah, durhaka, dan berdosa, telah diubahkan oleh Allah. Allah telah memberikan hidup baru bagi kita melalui kematian-Nya (Ay. 6-8).

Refleksi
Mari kita renungkan, Betapa besar kasih Allah kepada kita, yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Tidak ada yang baik dalam diri kita. Tidak ada yang benar dalam hidup kita. Tetapi Kristus justru memilih untuk mati bagi kita.

Tekadku
Ya Tuhan, terimakasih untuk kasih-Mu yang besar dalam hidup kami. Engkau yang telah rela mati untuk kami. Kami percaya dalam setiap kehidupan yang kami alami saat ini, Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Dalam pergumulan dan kesulitan yang kami hadapi, kasih-Mu tetap menyertai dan memberikan kekuatan kepada kami.

Tindakanku
Dalam situasi sulit yg saya hadapi saat ini, saya tidak akan menyerah. Saya akan terus percaya bahwa Tuhan akan selalu menyertai, kasih Tuhan selalu melimpah dalam hidup saya.

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«