suplemenGKI.com

TRANSFIGURASI

Lukas 9:28-36

Perikop ini menceritakan tentang transfigurasi yaitu peristiwa pemuliaan YESUS di atas gunung. Kisah transfigurasi menandai  peneguhan akan penggenapan janji penyelamatan ALLAH melalui jalan penderitaan.

Ayat 28-31        : Mengapakah YESUS mengalami pemuliaan di atas gunung?
Ayat 32-36        :    Apakah respon para murid ketika menyaksikan peristiwa pemuliaan di atas gunung itu?

Renungan:

Mirip dengan  perjumpaan Musa dengan ALLAH di gunung Sinai, dalam peristiwa transfigurasi wajah YESUS diliputi oleh cahaya kemuliaan. Namun dalam peristiwa ini YESUS tidak sendiri, tapi berjumpa dengan Musa dan Elia; nabi dan imam  yang mewakili kehadiran ALLAH pada zamannya.  Kehadiran Musa dan Elia  menandai bahwa YESUS diteguhkan untuk memasuki Yerusalem. Artinya janji penyelamatan ALLAH akan digenapi di Yerusalem melalui penyaliban YESUS. Melalui peristiwa transfigurasi  ini hendak ditegaskan bahwa peneguhan YESUS sebagai Mesias yang menderita adalah wujud dari kemuliaan ALLAH.

Peristiwa pemuliaan YESUS di atas gunung  disaksikan oleh para murid sebagai pemandangan yang menakjubkan. Mereka begitu terpesona oleh cahaya kemuliaan YESUS sehingga Petrus memberikan respon spontan untuk mendirikan tiga kemah di gunung itu. Respon spontan Petrus tersebut menunjukkan bahwa dia tidak mengenal siapa sang guru. Memang manusia seringkali mudah takjub oleh cahaya kemuliaan yang dilihatnya dan karenanya ingin mempertahankan pemandangan penuh kemuliaan itu tanpa bertanya apakah maksud TUHAN ketika memberikan pemandangan itu. Dengan permohonan tersebut, sesungguhnya Petrus akan mengurung atau menghalangi kepergian Kristus ke Yerusalem untuk menderita dan wafat. Petrus ingin agar Yesus, Musa dan Elia tetap tinggal di atas gunung itu bersama dengan mereka. Sepertinya Petrus ingin mengalihkan perhatian tujuan percakapan antara Yesus dengan Musa dan Elia, sehingga dia dapat berlama-lama menyaksikan kemuliaan Kristus. Sikap Petrus tersebut juga mencerminkan sikap umat Kristen pada umumnya. Mereka lebih senang jikalau Tuhan selalu bersama dengan mereka pribadi dari pada  Tuhan berkarya melaksanakan misiNya ke lingkup yang lebih luas. Begitu banyak umat Kristen yang masih menghayati makna keselamatan secara individualistik belaka. Padahal Tuhan Yesus datang ke dalam dunia adalah untuk memberikan hidupNya bagi seluruh umat.

Di tengah sikap Petrus yang menunjukkan kurangnya pengenalan pada sang Guru, terdengarlah suara dari dalam awan  yang menyatakan “Inilah Anak-Ku yang Ku pilih, dengarkanlah DIA”. Dengan pernyataan ini, para murid diingatkan  bahwa sekalipun Mesias, Yesus adalah Mesias yang menderita. Hal ini sungguh kontradiktif dengan peristiwa transfigurasi yang baru saja mereka saksikan.

Sungguh tidak mudah memahami bahwa dalam penderitaan ada kemuliaan atau kemuliaan dapat muncul dari penderitaan. Tapi itulah yang dialami oleh YESUS. Kemuliaan dalam ketenangan dan kenyamaan di atas gunung harus segera dibawa turun untuk dipancarkan dalam keseharian karya di tengah masyarakat, juga dalam setiap rintangan dan kesulitan yang mungkin menghadang. Jadi jangan hanya terpesona oleh keindahan dan kemuliaan TUHAN tapi bersiaplah bersama TUHAN melakukan karya di tengah tantangan penderitaan dan kesulitan. Kemuliaan TUHAN bukan hanya untuk disaksikan tapi untuk diwujudkan dalam keseharian.

Senang menyaksikan kemuliaan TUHAN berarti juga senang untuk merenungkan kemuliaan TUHAN di tengah kesulitan dan penderitaan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*