suplemenGKI.com

Lukas 17:11-19

BELAJAR DARI MUSUH

PENGANTAR
Permusuhan sangat beracun. Jika Anda terlibat dalam permusuhan, pikiran dan perasaan Anda akan terkena dua macam racun yang sangat berbahaya: arogansi dan kebencian. Jika dua racun ini bergabung, daya rusaknya berlipat ganda. Jika Anda merasa lebih benar dan lebih baik dari orang tersebut, kebencian pun akan semakin kuat mencengkeram hati Anda.  Aristophanes (460-380 SM), seorang penulis dan pemain drama, memberi kita nasihat: “Orang-orang bijak belajar banyak hal dari musuh-musuh mereka.” Belajar dari musuh akan mengurangi arogansi kita, dan dengan demikian akan menghapus kebencian dari hati kita.

PEMAHAMAN

  • Ay. 11-14. Mengapa orang-orang kusta itu berada di perbatasan?  Seberapa pentingkah kesembuhan bagi mereka?  Bagaimana Yesus menanggapi permohonan mereka?
  • Ay. 15-16. Mengapa hanya orang Samaria ini yang kembali kepada Yesus dan memuliakan Allah? Di manakah kesembilan orang yang lainnya?
  • Ay. 17-19. Dalam perjalanan itu Yesus diringi oleh para murid-Nya dan banyak orang Yahudi. Apa yang Yesus hendak ajarkan kepada mereka?

Di zaman itu, orang-orang kusta tidak boleh hidup di tengah masyarakat dan dikucilkan di daerah perbatasan. Kesembuhan sangat penting bagi mereka agar dapat hidup secara normal di tengah masyarakat. Mereka pun memohon belas kasihan Yesus. Namun, Yesus tidak memberikan mukjizat yang terjadi segera. Sebelum kesembuhan terjadi, Yesus menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada  para imam.  Sesuai hukum Taurat, hal ini harus mereka lakukan agar dinyatakan tahir dari kusta. Secara implisit Yesus memberitahu mereka bahwa nanti di tengah jalan mereka menjadi tahir. Dan, hal itulah yang kemudian terjadi (ay.14b).

Ketika kesembuhan itu terjadi, salah seorang dari mereka, seorang Samaria, kembali kepada Yesus, memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya (ay.15-16a).  Sembilan orang yang lainnya tentu saja melanjutkan perjalanan untuk menunjukkan kesembuhan mereka kepada para imam. Bagi mereka sangatlah penting untuk mendapatkan status tahir sesuai dengan hukum Taurat. Tidak demikian bagi orang Samaria ini. Baginya, ada yang lebih penting dari pada mendapatkan pengesahan Taurat, yaitu mengucap syukur kepada Yesus dan memuliakan Allah yang telah menyembuhkannya.

Bagi orang-orang Yahudi, perkataan Yesus di ayat 17b-18, “Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” terasa seperti halilintar di siang bolong.  Orang-orang Samaria ternyata tidak seburuk yang mereka pikirkan. Yesus mengajak mereka belajar dari orang Samaria yang mereka anggap sebagai “orang asing” atau musuh bagi mereka.  Yesus mengajak mereka meninggalkan arogansi mereka dan menghapus kebencian di dalam hati mereka.

REFLEKSI
Belajar dari musuh akan mengurangi arogansi/ kesombongan kita, dan dengan demikian akan menghapus kebencian dari hati kita.

TEKADKU
Tuhan, berikanlah kepadaku kerendahan hati untuk belajar dari orang-orang yang selama ini aku anggap sebagai musuh.

TINDAKANKU
Dalam seminggu ke depan, aku akan mendoakan minimal seseorang yang aku anggap sebagai musuh (atau yang hubungannya kurang baik denganku) dan menemukan tiga hal yang baik di dalam dirinya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«