suplemenGKI.com

Sabtu, 12 Mei 2012

11/05/2012

Yohanes 15:9-17

Arti Sahabat

 

“Persahabatan bagai kepompong……” demikianlah bunyi syair salah satu lagu yang beberapa waktu lalu cukup populer. Hari ini kita akan merenungkan pernyataan Tuhan Yesus yang menyebut para murid-Nya sebagai sahabat, agar kita menyadari bagaimana kita memandang hubungan kita dengan Allah.

- Apakah Saudara memiliki sahabat? Apa arti persahabatan bagi Saudara?

- Apakah maksud Tuhan Yesus ketika menyebut para murid-Nya sebagai sahabat?

- Apakah sebutan “Sahabat” dari Kristus memiliki pengaruh atas hidup Saudara? Mengapa demikian?

 

Renungan

Barclay, dalam buku tafsirnya tentang Injil Yohanes mengatakan bahwa ungkapan sahabat ini berasal dari adat kebiasaan di lingkungan kaisar-kaisar Romawi maupun raja-raja di Timur. Di dalam lingkungan ini ada sekelompok orang yang terpilih yang disebut sahabat-sahabat raja atau sahabat-sahabat kaisar. Mereka setiap waktu dapat datang kepada raja, mereka bahkan diberi hak untuk datang ke kamar tidur raja pada pagi hari. Ia bercakap-cakap dengan mereka sebelum ia bicara dengan para jenderalnya, para pejabat pemerintahan dan para diplomatnya. Sahabat-sahabat raja adalah mereka yang mempunyai hubungan yang paling dekat dan akrab dengan dia.

Melalui keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebutan sahabat yang dikenakan Kristus kepada para murid merupakan pernyataan akan kedekatan hubungan. Tuhan Yesus memberikan alasan tentang mengapa Ia menyebut para murid sebagai sahabat, yaitu “karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”. Hal paling akhir yang disampaikan Tuhan Yesus sebelum Ia menyebut para murid sebagai sahabat adalah kerinduan-Nya agar para murid-Nya hidup dalam kasih, saling mengasihi. Inilah perintah-Nya, sekaligus juga sebagai indikator apakah kita adalah sahabat-Nya atau bukan. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu (ay. 14). Tuhan Yesus bukan sekadar memberikan perintah, tetapi Ia juga memberikan teladan. Sebelum memberikan perintah ini, Kristus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Ungkapan “memberikan nyawa” cenderung dipahami sebagai kesediaan untuk mati. Oleh sebab itu saya lebih setuju bila diterjemahkan “hidup”, sebagaimana yang dilakukan oleh BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari), karena memiliki pengertian yang lebih luas.

Apakah Saudara adalah sahabat Kristus? Banyak orang yang rela mati demi Kristus, tapi tidak rela hidup bagi Kristus. Dalam pengertian tertentu, mati untuk Kristus jauh lebih ringan dibanding hidup untuk Kristus. Ketika kita mati, kita tidak merasakan apa-apa lagi. Tapi ketika kita hidup, kita masih merasakan penderitaan. Seorang sahabat sejati rela menanggung penderitaan demi / bersama sahabatnya itu. Bukti bahwa kita adalah sahabat Kristus ialah ketika kita mau hidup bagi Kristus, yaitu hidup dengan mentaati perintah Kristus. Apakah Saudara sahabat Kristus?

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«