suplemenGKI.com

Yohanes 5:1-9

Panggilan Untuk Menguatkan dan Memulihkan

Kemanapun Tuhan Yesus pergi, Ia senantiasa memberitakan kebenaran dan menyatakan kebenaran melalui kepedulian kepada sesama.  Bacaan kita kali menceritakan mujizat Tuhan Yesus kepada seorang yang lumpuh.

Pertanyaan Penuntun:

  1. Dimanakah Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh? (ayat 1, 2)
  2. Apa yang dinantikan banyak orang lumpuh yang dibaringkan di sana?  (aya 3, 4)
  3. Berapa lama orang itu menderita kelumpuhan?  Mengapa selama itu?  (ayat 5, 7)
  4. Apa yangTuhan Yesus tanyakan dan perintahkan setelah itu?  (ayat 6, 8)
  5. Apa yang terjadi ketika orang tersebut percaya?  (9, 14, 15)

 

RENUNGAN
Di Yerusalem Tuhan Yesus bertemu dengan seorang yang lumpuh.  Meski namanya tidak diberi tahu, namun keadaannya secara rinci diungkapkan.  Ia telah lumpuh selama 38 tahun (ayat 5).  Tidak jelas ia lumpuh sejak lahir atau sesudahnya.  Jadi, kita tidak tahu apakah saat itu ia berusia 38 tahun atau sudah lebih tua.  Lamanya ia menderita lebih penting ketimbang usianya.  Menderita 38 tahun bukanlah singkat.  Ia sudah putus asa.  Ia tidak hanya menderita secara fisik, tetapi juga secara sosial. Ia hidup sendiri. Ia tidak memiliki teman yang memperhatikannya atau menolongnya (ayat 7).  Suatu penderitaan yang luar biasa!  Ketika Tuhan Yesus menyapanya dan menawarkan kesembuhan, segera terungkap keputusasaannya dan kesendiriannya.  Ia tidak mengharapkan Yesus mampu menyembuhkannya.  Mengapa ia bersikap seperti itu?  Bukankah ini suatu kesempatan berharga untuk lepas dari penderitaan badani?

Orang lumpuh itu bukan tidak ingin sembuh, tapi apa arti pengharapan bila selama 38 tahun tidak juga ada yang menolong.  Padahal untuk sembuh hanya butuh orang yang mengangkatnya ke kolam (ayat 7).  Tidakkah di situ ada banyak orang yang seharusnya bisa menolong, termasuk orang-prang Yahudi yang kemudian menyatakan keberatan atas tindakan Tuhan Yesus, dengan alasan hari Sabat.  Hal ini kontras dengan yang dilakukan dengan Tuhan Yesus.  Ia datang dan menawarkan kesembuhan sebagai undangan agar orang yang lumpuh itu tetap berani berharap di tengah keadaannya.   Tuhan Yesus menyembuhkannya (ayat 8).  Sekarang ia bisa berjalan. Tidak lumpuh lagi (ayat 9).  Bahkan di perjumpaan berikutnya, orang yang dulunya lumpuh itu menerimaa sapaan Tuhan Yesus untuk bertobat dan percaya (ayat 14, 15).  Sikap yang menyapa untuk menguatkan dan memulihkanharus menjadi teladan hidup orang percaya.

Ada banyak orang ‘lumpuh’ di sekitar kita.  Mereka yang mengalami penolakan, kekecewaan, ketidakmampuan secara ekonomi, kekerasan dalam rumahtangga, putus asa, peyakit yang menahun dan lain sebagainya.  ‘Kelumpuhan’ itu membuat mereka tidak berani bersuara dan berharap akan datangnya pertolongan.  Sementara itu ada banyak orang yang sibuk melewati mereka tanpa menyapa sedikitpun.  Hal ini makin membuat pertolongan dan kesembuhan seolah menjadi ‘barang’ yang terlalu mahal untuk diharapkan dan diminta.    Hari ini mungkin mereka sedang menanti orang yang bersedia menolongnya;  atau barangkali ada pula yang tidak berani berharap lagi.  Nrima ing pandum.  Tuhan Yesus memberi keteladanan bagi setiap orang percaya, yaitu  panggilan untuk menyatakan iman melalui karya kasih yang menguatkan dan memulihkan yang lemah.  Bukankah kita dulu juga orang yang ‘lumpuh’ karena dosa?  Tidak ada alasan untuk meneladan sikap Tuhan Yesus.  Mari melalui apa yang kita punya, seberapa pun yang bisa kita lakukan bagi sesama yang membutuhkan, jangan tunda.  Mari kita lakukan sekarang!

 

Wujudkan imanmu melalui Kepedulian yang Menguatkan dan Memulihkan Sesama

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«