suplemenGKI.com

Roma 14:13-23 

Bahaya Menjadi Batu Sandungan 

Mungkin setiap kita pernah tersandung saat berjalan, dan selalu tersandung oleh batu berukuran kecil. Meskipun begitu, akibatnya sungguh luar biasa, kita bisa terhuyung-huyung, bahkan juga terjungkal. Hari ini kita juga akan merenungkan tentang batu sandungan tersebut.

-  Apakah yang dimaksud dengan “Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung”? Dalam hal apa kita telah membuat orang lain tersandung?

- Menurut Saudara, seberapa seriuskah dampak menjadi batu sandungan itu? Setujukah Saudara kalau dikatakan bahwa menjadi batu sandungan itu sama seriusnya dengan memberontak kepada Allah? Mengapa demikian? 

Renungan

Arti hurufiah dari frasa “Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung” (ay. 13) adalah jangan meletakkan batu sandungan bagi saudaramu, atau memasang jerat baginya. Nasihat ini kemungkinan berakar dari pengajaran Tuhan Yesus sendiri yang tercatat dalam Matius 18:6-7, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”

Dalam penjelasan berikutnya rasul Paulus menghubungkan menjadi batu sandungan ini dengan tindakan menyakiti hati saudara (ay. 15). Kata “menyakiti” di sini harus dilihat bersamaan dengan kata “membinasakan” yang digunakan Paulus dalam kalimat berikutnya. Sehingga pengertian menyakiti hati ini bukan hanya dalam pengertian tersinggung, melainkan lebih dalam dari itu, membuat iman orang lain menjadi goyah, kehilangan pegangan, karena perbuatan kita memprovokasi dia untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya sebagai dosa.

Mungkin orang berdalih dengan mengatakan bahwa ia tidak melakukan hal itu dengan maksud membuat imannya goyah. Kalau kemudian ia menjadi goyah, maka sebenarnya ya salah sendiri. Ini adalah pemikiran dari mereka yang tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih (ay. 15). Melawan pemikiran semacam ini, rasul Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah mati untuk orang yang tidak kita pedulikan tersebut. Bagaimana mungkin kita mengatakan mengasihi Allah sambil bertahan untuk mengabaikan apa yang Allah pedulikan? Dengan membiarkan saudara seiman itu binasa, kita melawan Allah yang sedang menyelamatkan dia. Ini adalah konsekuensi yang mungkin kita tidak sadari. Dengan menjadi batu sandungan, kita telah memberontak terhadap Allah. itu sebabnya tidaklah mengherankan bila dalam ayat 20 Paulus berbicara dengan lebih tegas lagi, “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci…” Paulus menyetujui pemikiran kelompok yang kuat, bahwa segala sesuatu adalah suci, tetapi Paulus juga mengecam keras perilaku kelompok kuat tersebut. Dengan tegas Paulus berkata, “tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” Adalah suatu hal yang ironis kalau kita merusakkan pekerjaan Allah demi menegakkan pemahaman kita.  

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*