suplemenGKI.com

Bacaan :  Markus 9 : 2 – 7

Kebahagiaan bersama Yesus yang dimuliakan

PENGANTAR
Salah satu fase pelayanan Tuhan Yesus yang penting namun sering dilupakan banyak orang adalah   “transfigurasi”. Transfigurasi merupakan suatu perubahan bentuk atau rupa. Dalam peristiwa tersebut tubuh fisik Tuhan Yesus berubah secara menyeluruh, dimana tubuh manusiawi-Nya memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Seandainya kita yang melihat dalam peristiwa transfigurasi tersebut, kira-kira bagaimana perasaan kita ?

PEMAHAMAN

  1. Bagaimana peristiwa “transfigurasi” itu terjadi ? ( ayat 2-3 ).
  2. Mengapa dalam peristiwa “transfigurasi” tersebut muncul tokoh Musa dan Elia ? ( ayat 4 )
  3. Bagaimana perasaan murid-murid ( diwakili Petrus ) ketika menyaksikan peristiwa “transfigurasi” ? ( ayat 5-6 ).
  4. Bagaimana perasaan saudara, seandainya yang melihat peristiwa “transfigurasi” itu adalah saudara ?

Tuhan Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Kemudian Tuhan Yesus berubah rupa di depan mata mereka, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi sangat putih berkilau-kilauan, bersinar seperti terang.  Dalam peristiwa perubahan rupa itulah tubuh Yesus memancarkan kemuliaan Illahi-Nya. Kemuliaan-Nya sangat menakjubkan. Musa dan Elia juga muncul dalam peristiwa transfigurasi Yesus tersebut. Keduanya berada dalam kemuliaan Tuhan. Kehadiran Musa dan Elia yang berbicara kepada Tuhan Yesus menunjuk kepada pengorbanan yang akan dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Ketika kedua tokoh besar itu bertemu dengan Tuhan Yesus, itu berarti pemberi hukum terbesar dan nabi terbesar, sama-sama berkata kepada Yesus, “Teruskan” misi pengorbanan di kayu salib itu.

Murid-murid yang melihat peristiwa “transfigurasi” Tuhan Yesus tersebut sangat bahagia. Petrus mewakili kedua murid menyampaikan perasaannya, “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini”. Petrus jujur dengan perasaannya. Ia sangat senang berada dalam situasi kemuliaan Tuhan Yesus. Ia ingin menikmati lebih lama, bahkan secara terus menerus. Seandainya kita berada dalam posisi Petrus, mungkin kita juga mengungkapkan hal yang sama seperti yang diungkapkan Petrus. Hal itu tidak salah. Namun yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana pengalaman merasakan peristiwa kemuliaan Allah itu tidak berhenti pada diri kita. Dengan kata lain kita yang telah merasakan kemuliaan Allah tersebut harus berdampak dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam kehidupan keluarga maupun di tengah-tengah masyarakat. Bersediakah saudara ?

REFLEKSI
Marilah kita merenungkan ! Pernahkah saudara mengalami persekutuan yang paling intim dengan Tuhan ? bagaimana perasaan saudara saat itu ? apakah saudara membagikan pengalaman tersebut dengan orang lain ?

TEKADKU
Ya Tuhan, tolonglah saya agar dapat membangun persekutuan pribadi dengan-Mu.

TINDAKANKU
Saya harus membagikan perasaan bahagia yang saya peroleh melalui persekutuaan yang intim dengan Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«