suplemenGKI.com

SABTU, 10 MEI 2014

09/05/2014

I Petrus 2:23-25

JATI DIRI YANG TERUJI DI TENGAH TANTANGAN (Bagian 2)

 

Pengantar
Kematian Sarah, putri satu-satunya karena dibunuh tentu membuat kesedihan mendalam di hati ibu Elizabeth.  Rasa sedih itu makin terasa berat manakala mengetahui bahwa pembunuh Sarah adalah mantan pacarnya, yaitu Hafied yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.  Secara manusia adalah wajar bila ibu Elizabeth marah, dendam, mencaci maki , memukul dan tidak bisa memaafkan.  Namun yang terjadi sebaliknya, ibu Elizabeth menyambut uluran tangan Hafied saat dia meminta maaf.  Bukan hanya itu, ibu Elizabeth juga tidak keberatan Hafied tetap memanggilnya ‘mama’.  Ketika wartawan menanyakan kenapa ibu Elizabeth bisa brrsikap seperti itu, dia menjawab ‘Puji Tuhan karena Dia sudah memberi kekuatan kepada saya menanggung beban yang berat ini dan saya percaya anak saya Sarah sekarang di sorga bersama-Nya.  Saya harus bisa memaafkan Hafied’. 

Pemahaman
Ayat 23: Apa saja teladan yang sudah Tuhan Yesus berikan kepada kita?
Ayat 24-25: Apa dampak dari kematian Tuhan Yesus?
Dalam hal apa kita mewujudkan jati diri sebagai pengikut Kristus? 

Penderitaan yang dialami Tuhan Yesus adalah penderitaan yang tidak seharusnya DIA alami, namun karena Yesus tunduk pada rencana Bapa di sorga untuk menyelamatkan umat manusia maka Dia rela menangung penderitaan.  Penderitaan Yesus tidak hanya menyelamatkan jiwa kita, tetapi juga memberi contoh konkrit bagaimana kita harus bersikap terhadap orang-orang yang menyakiti kita.  Tuhan Yesus telah menanggung seluruh dosa kita, dengan tubuhnya, sehingga kita bisa hidup dalam kebenaran.  Hidup dalam kebenaran-Nya berarti kita tidak lagi tersesat dalam pola pikir duniawi yang membalas kejahatan dengan kejahatan.  Dengan melakukan seperti yang Yesus lakukan/‘teladankan’ maka jati diri kita sebagai pengikut Kristus akan nampak dengan jelas. 

Refleksi
Saat kita berinteraksi dengan orang-orang di sekitar, tidak jarang kita mengalami benturan (konflik).   Kadang bisa terjadi ada cacti maki, fitnah, timbul ketidakjujuran dan kejahatan lainnya.  Bagaimana sikap kita selama ini?  Apakah kita masih tersesat dalam arus duniawi yang membalas kejahatan dengan kejahatan?  Atau, apakah kita sudah bisa menunjukkan sikap yang berbeda sesuai dengan jati diri sebagai pengikut Kristus yang sudah ditebus-Nya?

Tekadku
Tuhan tolonglah aku untuk bisa meneladani-Mu, agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.  Tolonglah, kuasai aku dengan Roh Kudus agar bisa mengendalikan diri bila menghadapi situasi yang bisa menyeret aku melupakan jati diriku sebagai murid Yesus.

Tindakanku
Hari ini aku akan menemui ………….. (orang yang pernah menyakitiku) dan merangkul dia kembali sebagai temanku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«