suplemenGKI.com

Sabtu, 10 Maret 2012

09/03/2012
Ibadah

Ibadah

Yohanes 2:12-16

Pusat Peribadahan atau Pusat Perdagangan?

Bolehkah berjualan di gereja? Pertanyaan ini seringkali diajukan oleh banyak orang Kristen di banyak tempat dan waktu. Hari ini kita akan belajar bersama tentang sikap Tuhan Yesus terhadap perdagangan yang ada di Bait Allah pada jaman itu. Melalui perenungan ini, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas tentang sikap Tuhan Yesus, yang seharusnya juga menjadi sikap kita sendiri.

-  Dapatkah Saudara gambarkan seberapa meriah perayaan Paskah pada jaman Tuhan Yesus? Berapa orang yang datang ke Bait Allah dan hiruk pikuknya suasana yang ada?

-  Hal apakah yang membuat Tuhan Yesus sedemikian marahnya? Suasana perdagangan yang hiruk pikuk? Atau kebersihan Bait Allah yang kurang baik karena dikotori oleh ratusan – bahkan mungkin ribuan – binatang yang ada? Atau……?

Renungan

Kisah ini terjadi dalam suasana menjelang paskah. Paskah adalah hari raya orang Yahudi yang paling meriah. Hal ini tidak mengherankan, karena ada semacam aturan yang mengatakan bahwa setiap orang Yahudi dewasa yang tinggal dalam radius 20km dari Yerusalem harus mengikuti perayaan Paskah di Yerusalem. Kehadiran mereka ini tentu menjadi semacam magnet bagi yang lain untuk turut hadir, sehingga Barclay mengatakan sekitar 2 ¼ juta orang bisa berkumpul di Yerusalem untuk merayakan perayaan Paskah ini. Dalam perayaan akbar ini, Yesus terusik oleh kegiatan perdagangan di Bait Allah. Pada dasarnya apa yang dilakukan para pedagang itu dapat membantu orang untuk beribadah. Para penukar uang misalnya. Pada waktu itu beredar berbagai jenis uang, seperti: uang logam perak Romawi, Yunani, Mesir  Tyrus dan Sidon, serta uang perak Palestina sendiri. Tetapi uang yang berlaku di Bait Allah, terutama untuk membayar pajak Bait Allah, haruslah uang shekel Bait Allah. Bisnis money changer ini menjamur di Bait Allah karena memang menjanjikan. Keuntungan yang diperoleh setiap penukaran uang bisa mencapai 50%. Untung besar para penukar uang ini tentu membuat orang-orang yang membutuhkan buntung, dirugikan, bahkan dirampok.

Demikian pula dengan para pedagang binatang korban. Taurat mengharuskan binatang yang dipersembahkan haruslah tak bercacat. Oleh sebab itu para imam harus memeriksa terlebih dahulu binatang yang akan dipersembahkan ini. Namun bila umat yang mempersembahkan ratusan, bahkan ribuan, tentu akan memakan waktu yang sangat lama. Oleh sebab itu ada orang-orang yang ditunjuk menjadi semacam tim sertifikasi. Rupanya tim sertifikasi ini bekerja sama dengan para pedagang binatang korban, sehingga terjadi tindakan pat pat gulipat yang sangat merugikan umat. Harga binatang korban yang dijual di Bait Allah menjadi jauh lebih mahal daripada di luar Bait Allah. Burung  merpati misalnya, harganya bisa mencapai dua puluh kali lipat. Padahal orang yang mempersembahkan burung merpati adalah orang yang tidak mampu.

Dari sini kita dapat melihat bahwa kalau kemudian Kristus marah atas perdagangan yang ada di Bait Allah, itu bukan semata-mata Bait Allah menjadi kotor, berisik, dsb. Tapi ada praktek-praktek yang memprihatinkan. Bait Allah yang seharusnya menjadi pusat peribadahan, kini malah menjadi pusat perdagangan yang penuh kecurangan. Bersama dengan Kristus, mari kita bersama-sama menjaga peribadahan kita. Bukan hanya tempatnya yang kita jaga agar suasananya dapat tetap asri dan membuat orang nyaman beribadah, tetapi terutama menjaga hati yang ada, agar dapat tetap murni tanpa manipulasi atau pun niatan-niatan lain yang keji.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*