suplemenGKI.com

Markus 1:4-8

INTEGRITAS DIRI

 

Pengantar
Perkataan seseorang mungkin termasuk sederhana tapi akan menjadi luar biasa ketika perkataan tersebut dibangun di atas dasar integritas diri.  Bacaan kita hari ini menyoroti integritas hidup yang turut mendukung seruan Yohanes.

Pemahaman

  • Ayat 4:  apa yang Yohanes serukan ketika di padang gurun?
  • Ayat 5:  bagaimana respons orang-orang di seluruh daerah Yudea?
  • Ayat 6:  bagaimana Yohanes digambarkan di bagian ini?
  • Apakah iman percaya kita sudah terwujud nyata dalam kehidupan?

Diceritakan bahwa Yohanes datang memberitakan baptisan pertobatan.   Baptisan ini berkaitan erat dengan ritus-ritus pembersihan yang dihidupi oleh orang Yahudi (bdk. dg. Im. 11-15).  Ritus baptis melambangkan pembasuhan dan pembersihan seseorang dari masa lalunya yang kotor.  Menariknya, banyak orang Yahudi berbondong-bondong kepada Yohanes untuk mengaku dosa dan memberi diri dibaptis.  Markus menjelaskan kedatangan banyak orang itu terkait dengan pola hidup yang ditampilkan oleh Yohanes.  Dia tidak hanya menjadi penggugat, tetapi juga menampilkan keteladanan hidup sederhana dan mulia ala Elia (bdk. dg. 2Raj, 1:8).  Yohanes bukan hanya tegas tetapi juga menghidupi berita yang ia sampaikan dalam kebersahajaan.  Kenyataan hidup dalam pertobatan yang dipraktikkan Yohanes menjadi daya tarik yang luar bisa bagi banyak orang untuk mengikuti dia.  Beda dengan para pengajar di jamannya, yaitu ahli-ahli Taurat yang hanya menekankan aturan keagamaan tanpa memberi teladan.

Wajar bila Yohanes (demikian juga dengan Yesus) disambut dan diterima banyak orang  Yahudi.  Yohanes menampilkan integritas diri, yaitu kesesuaian antara apa yang diserukan dengan praktik hidupnya. Kehidupan Kristen merupakan panggilan untuk menjalani kehidupan yang tidak berjarak dengan apa yang diyakini.  Apa artinya berita dan keyakinan yang indah bila tidak ditopang oleh kerinduan menjalankan hidup yang selaras dengan pengajaran/keyakinan.  Bertobat bukan sekadar sadar dosa, tapi juga mempunyai kerinduan yang kuat untuk menjalani kehidupan dengan moralitas baru.  Pada titik inilah, seseorang akan menjalankan kehidupannya yang apa adanya. Kehidupan yang seolah langka di tengah kepalsuan jaman.

Refleksi:
Mari merenungkan: Bertobat bukan sekadar sadar dosa tapi juga komitmen untuk hidup berintegritas yaitu mewujudkan keyakinan dalam hidup sehari-hari.

Tekadku
Aku mau menyelaraskan apa yang kuyakini dengan yang kujalani.

Tindakanku
Berkomitmen menghidupi apa yang kuyakini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*