suplemenGKI.com

Sabtu, 1 Mei 2021

30/04/2021

HIDUP DALAM KASIH ALLAH

I Yohanes 4:7-21

 

Pengantar
Kasih adalah bahasa kemanusiaan yang universal. Semua orang didunia ini bisa mengasihi orang lain walaupun tak semua orang bisa mengasihi tanpa pamrih. Ada orang yang kasihnya sangat tergantung pada kasih orang lain. Akibatnya bila orang lain tak baik, maka sulit baginya untuk mengasihi orang itu. Orang berkata, “saya mengasihimu bila engkau juga mengasihiku”. Itulah kasih yang bersifat transaksional. Apakah kasih orang-orang percaya juga seperti itu? Marilah kita merenungkannya!

Pemahaman

  • Ayat 7-8     : Apakah dasar panggilan orang percaya untuk hidup saling mengasihi?
  • Ayat 9-14  : Bagaimanakah wujud kasih ALLAH bagi kita?
  • Ayat 15-21: Apakah tanda bahwa kita mengasihi ALLAH?

Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa  ALLAH adalah sumber kasih.  Kasih itu bukan hanya dinyatakan melalui pengorbanan YESUS, melainkan juga melalui pengorbanan BAPA yang telah merelakan ANAKNYA. Kasih yang diberikan ALLAH kepada kita adalah kasih yang tak pernah berhenti dan kasih yang tulus serta tak berharap imbalan. Kasih sejati adalah kasih yang mau memberi tanpa pamrih, bukan kasih yang transaksional. Inspirasi kasih sejati dari ALLAH inilah yang menjadi dasar panggilan kita untuk hidup dalam kasih pula.

Sebagai anak-anak ALLAH yang mengalami kasih-NYA di dalam hidup kita, maka kita dipanggil  merefleksikan karakter BAPA  yang adalah kasih. Orang yang mengasihi membuktikan bahwa ia telah lahir dari ALLAH. Jadi dalam kehidupan orang percaya, panggilan untuk hidup mengasihi tak bisa ditawar dan tak tergantung kondisi sekitar tapi lahir dari hati yang telah merasakan kasih ALLAH. Saat kita mengasihi sesungguhnya bukan karena kita baik dan mampu mengasihi tapi sebenarnya kita hanya meneruskan kasih ALLAH yang sudah dialirkan kepada kita.  Justru karena kita telah merasakan kasih ALLAH maka kita selalu memiliki energi yang cukup untuk bisa meneruskan kasih ALLAH bagi orang lain. Oleh karenanya I Yohanes dengan tegas mengatakan, jika tidak mau mengasihi, jangan pernah menyatakan bahwa kita mengenal ALLAH.

Jadi apakah hidup menyatakan kasih ALLAH itu sulit? Orang bilang, menghadirkan kasih ALLAH dalam hidup sehari-hari memang tidak mudah. Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respons yang tidak seimbang. Akan tetapi bila sumber kasih kita adalah kasih ALLAH maka  kekecewaan itu tidak mampu membendung kita untuk kembali belajar mengasihi. Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita hingga  tidak lagi memikirkan diri sendiri. Kasih ALLAH yang kita rasakan mengatasi segala kepentingan dan keuntungan kita.

Refleksi
Dalam keheningan, renungkanlah apakah selama ini kita telah hadir  sebagai anak-anak ALLAH yang  hidup dalam kasih? Apakah dalam perjalanan hidup ini, kasih kita kepada TUHAN dan sesama masih bersifat transaksioanal ataukah kasih yang tulus, tanpa pamrih? 

Tekadku
Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk meneruskan kasih-MU kepada sekitar kami dengan ketulusan hati.

Tindakanku
Mulai hari ini aku akan belajar menyatakan kasih TUHAN kepada orang yang paling menyakitiku, paling mengecewakanku dan sering membuatku marah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*