suplemenGKI.com

Mazmur 25:1-10

MENGHADAPI PENDERITAAN PANJANG

PENGANTAR
Penderitaan yang panjang bisa membuat seseorang meragukan kasih dan kuasa Tuhan.  Lebih buruk dari itu, penderitaan juga sering menjadi alasan bagi orang Kristen untuk menyimpang dari kehendak-Nya.  Kata “terpaksa” sering menjadi alasan untuk meninggalkan firman-Nya dan menyerah kepada si jahat.  Akibatnya, kita justru tidak dapat melihat kuasa-Nya yang bekerja di dalam hidup kita.  Pemazmur mengajar kita tiga jurus ampuh untuk menghadapi penderitaan yang panjang: memperteguh iman kita, tetap setia berjalan dalam kebenaran-Nya, dan menanti-nantikan pertolongan-Nya.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1. Pemazmur mengangkat jiwanya kepada Tuhan (ay.1).  Menurut Anda, apa artinya ’mengangkat jiwa kepada Tuhan’?
  • Ay. 2-3. Perhatikanlah bahwa dalam ayat 2-3, anak kalimat ’mendapat malu’ disebutkan hingga tiga kali. Menurut Anda, mengapa? Seperti apakah musuh yang sedang dihadapinya? (lihat juga ay.19).
  • Ay. 4-5. Bagaimana sikap pemazmur ketika menantikan Tuhan? Apa yang dimintanya di ayat 4 dan 5?

Untuk menghadapi tekanan karena penderitaan yang tiada henti, pemazmur menegaskan kembali imannya kepada Tuhan. Ini penting agar hatinya tidak lagi dikuasai oleh kebimbangan.  Pemazmur juga menegaskan kesetiaannya kepada Tuhan.  Dengan demikian dia mempunyai kekuatan untuk menanti-nantikan Tuhan.  Sikap seperti inilah yang seharusnya kita terapkan ketika menghadapi penderitaan agar tidak hanyut dalam keputusasaan.

Istilah ”mendapat malu” menunjukkan hilangnya harga diri karena ketidakmampuan menghadapi masalah (seperti seorang raja yang kalah dalam peperangan). Pemazmur memang sedang menghadapi musuh yang tidak ringan, yang mempunyai kekuatan besar untuk mengalahkannya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa pemazmur sudah berada di ambang batas keputusasaan. Kondisi ini bisa membuatnya kehilangan semangat, bersikap pasif, atau tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi.

Namun, alih-alih bersikap pasif, pemazmur justru memohon agar Tuhan menunjukkan jalan-jalan-Nya.  Ini berarti bahwa pemazmur siap melakukan kehendak-Nya.  Penderitaan yang berkepanjangan ternyata tidak membuat pemazmur berhenti mencari dan melakukan kehendak Tuhan.  Sambil menanti-nantikan pertolongan-Nya, pemazmur tetap setia melakukan kehendak-Nya.

REFLEKSI
Pernahkah Anda berada dalam situasi ’menanti-nantikan Tuhan’? Bagaimana perasaan Anda ketika berada dalam situasi tersebut? Apa yang Anda minta kepada Tuhan?

TEKADKU
Ya Tuhan, tolonglah aku agar tetap bersemangat melakukan kehendak-Mu, meskipun aku masih harus menghadapi kesulitan dan penderitaan yang panjang.

TINDAKANKU
Dalam kesempatan terdekat, aku akan mengunjungi seseorang yang sudah cukup lama menghadapi penderitaan yang panjang (misalnya, karena sakit) dan mendoakan dia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«