suplemenGKI.com

Filipi 3:7-11.

 

Menyangkal Kebenaran Diri Sendiri Untuk Menyambut Kebenaran Kristus

            Dave Branon, salah seorang penulis Our Daily Bread, dalam sebuah tulisannya ia menceritakan tentang salah satu karya William Shakespeare yang berjudul “Macbeth” Judul yang memang diambil dari nama tokoh utamanya yang bernama Macbeth. Tokoh Macbeth ini begitu kuat memerankan seorang raja yang selalu merasa benar, hebat dan sempurna. Akibatnya dia menjadi tokoh yang menguasai segala-galanya karena selalu merasa paling benar, paling baik dan paling hebat. Sampai suatu ketika dia harus membayar mahal atas sikapnya yang demikian. Yaitu kerajaan yang dia pimpinnya dalam waktu singkat menjadi hancur dan habis akibat serangan dari tentara Borisoph yang memang sudah lama ingin menguasai kerajaannya. Setelah diselidiki, ternyata begitu banyak orang yang pintar, berpikiran genius dan mengerti strategi perang jauh melebihi Mecbeth, tetapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa karena sikap Macbeth yang selalu merasa diri paling benar. Ketika Macbeth mengetahui potensi itu dia menyesal karena tidak mau mendengarkannya. Bagaimana Paulus dapat menyangkal semua kebenaran dirinya demi menyambut kebenaran Kristus?

 

Pertanyaaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa yang membuat Paulus sampai berkata semua kehebatannya dianggap suatu kerugian, bukankah kehebatan seseorang adalah modal berharga agar menjadi terkenal?
  2. Apa yang dikehendaki Paulus dengan menjadikan Kristus adalah Sang kebenaran sejati dalam hidupnya?
  3. Bagaimana dengan kita, apakah kita juga rindu menjadikan Kristus segala-galanya dalam hidup kita?

 

Renungan:

Ketika kita melihat pemaparan Paulus tentang dirinya pada ay. 4-6, kita akan segera bisa menyimpulkan bahwa Paulus bukanlah orang yang sembarangan atau biasa-biasa saja, tetapi boleh dikatakan dia adalah orang yang luar biasa. Dalam Kisah 22:3 Paulus pernah dididik oleh maha guru bernama Gamaliel. Maka tidak diragukan lagi kemampuan, kepintaran dan pengetahuan yang dimiliki Paulus. Namun ketika kita membaca pernyataan di ay. 7-8, maka seolah itu semua menjadi tidak berarti dan tidak ada gunanya dibanding dengan Kristus yang telah dikenalnya dengan benar. Pengenalannya akan Tuhan Yesus jauh melampaui apa yang dimiliki, diperoleh dan diandalkannya selama ini. Dengan kata lain segala kehebatan, kebenaran dan pengetahuan yang tidak didasarkan pada kebenaran Kristus adalah sampah belaka. Paulus rela melepaskan semua sampah itu demi memiliki Kristus yang jauh lebih berharga dalam hidupnya. Semua yang bersifat duniawi, kebendaan yang sifatnya fana tidak mungkin bisa menolongnya untuk memiliki Kristus yang telah membenarkanya menjadi benar di hadapan Tuhan (Band. Roma3:23-24)

Namun ternyata belum cukup hanya sampai disitu, langkah selanjutnya setelah memiliki Kristus, Paulus ingin mengalami persekutuan dengan Kristus secara konkrit, yaitu dengan menjadi pelayan Kristus apapun resiko yang akan dihadapinya. Bahasa Paulus adalah bersekutu dalam penderitaan-Nya, artinya ia rela menderita asal tetap diperkenankan untuk melayani Tuhan.

Saudara, mungkin kita sekarang memiliki begitu banyak hal yang bersifat pengetahuan, kebolehan, harta milik dan kesalehan. Namun semua itu hanya sampah jika tidak didasarkan pada kebenaran Kristus. Kebenaran Kristus adalah kebenaran yang menyadarkan kita bahwa semua yang sifatnya fana akan lenyap sehingga tidak mungkin membawa kita pada kedamaian kekal. Hanya Kristus yang dapat menyediakan kedamaian kekal bagi kita. Rindukah kita untuk selalu bersekutu dengan Dia baik dalam kebangkitan-Nya maupun dalam penderitaan-Nya (mengabdi kepada-Nya walaupun menderita) jika kita rindu Niscaya kita akan bahagia. Amin.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*