suplemenGKI.com

SetiaMu, Tuhanku, tiada bertara, di kala suka, di saat gelap.
KasihMu, Allahku, tidak berubah, Kaulah Pelindung abadi, tetap.
SetiaMu, Tuhanku, mengharu hatiku, setiap pagi bertambah jelas.
Yang kuperlukan tetap Kau berikan, sehingga akupun puas lelas.NKB 34/PKJ 138

Syair asli lagu yang berjudul Great is Thy Faithfulness ini ditulis oleh Thomas Obadiah Chisholm. Ia dilahirkan di sebuah gubuk kayu yang sangat sederhana di Kentucky, Amerika pada tahun 1866. Tanpa pernah mengenyam pendidikan sekolah menengah, ia memulai karirnya sebagai guru Sekolah Dasar pada usia 16 tahun. Thomas kemudian menjadi editor sebuah surat kabar mingguan ketika ia menginjak 21 tahun. Enam tahun kemudian ia menerima Kristus sebagai juru selamat pribadinya dalam sebuah KKR. Dalam perjalanan hidup selanjutnya Thomas ditahbiskan sebagai pendeta sebuah gereja Metodist. Namun sayang tak lama setelah itu ia harus mengundurkan diri karena kesehatannya yang memburuk. Dalam sebuah suratnya, ia pernah menulis: “Penghasilanku tak pernah besar karena kesehatanku yang kurang baik sejak aku muda bahkan hingga kini. Meskipun demikian aku tak boleh gagal mencatat kasih setia Tuhan yang tak pernah mengingkari janjiNya. Semuanya cukup bagiku untuk membuatku senantiasa dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa”.
Berbeda dengan lagu rohani lain yang umumnya dilahirkan melalui sebuah peristiwa atau pengalaman spektakuler, lagu ini justru ditulis oleh pengarangnya tatkala menjalani kehidupan sehari-hari di tengah berbagai keterbatasan. Namun penulis diliputi keyakinan, bahwa Tuhan ALLAH senantiasa bersamanya. Sekalipun ia tidak menerima curahan berkat-berkat jasmani seperti yang umumnya didambakan manusia dan sekalipun hidupnya penuh penderitaan, hatinya meluap dengan rasa syukur karena kasih setia Tuhan yang dirasakannya setiap saat.
Pernahkah kita mengalami kehilangan kesabaran dan pengharapan tatkala mendung melingkupi kehidupan kita dan cerahnya sinar mentari terasa tak kunjung datang?
Paulus juga pernah mengalaminya. Di tengah penderitaan yang dialaminya ia mampu mengatakan dan sekaligus memberikan nasihat kepada kita: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Dalam menghadapi kehidupan ini, kita perlu melandasinya dengan pengharapan dalam Kristus dan senantiasa mengarahkan pandangan kita kepadaNya. Allahpun meneguhkan kita dengan firmanNya seperti tertulis dalam Yesaya 44:8 “Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!”. Dengan kasih setianya yang tiada bertara Allah selalu menyertai kita. Itu seharusnya cukup untuk membuat kita mampu bersabar dan berpengharapan dalam menjalani kehidupan.
A.T.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»