suplemenGKI.com

Kamis, 8 Oktober  2015

Mazmur 22:7-16

Pengantar

Kapan seseorang benar-benar merasakan bahwa dirinya menderita? Ketika orang lain memandang dirinya tidak lebih dari mangsa yang siap diterkam dan dihabisi. Apa yang dapat dilakukan orang yang berada dalam penderitaan? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 7-9, 13-17 :  Bagaimanakah gambaran penderitaan yang dialami pemazmur?
  • Ayat 10-12          : Bagaimanakah pandangan Pemazmur tentang TUHAN yang hadir dalam kehidupannya?

Kehidupan Kristen bukan hanya terdiri dari pengalaman manis yang indah untuk dikenang. Tak jarang kita juga berada dalam pengalaman pahit yang menghadirkan duka dan penderitaan. Di dalam penderitaan yang dialami Pemazmur,  tidak ada tempat lain baginya untuk mengadukan kepedihannya, selain kepada ALLAH. Kepada Dia sajalah, Pemazmur mencurahkan isi hatinya. Pemazmur mempertanyakan mengapa ALLAH meninggalkan dia sendirian, menyebabkan ia terasing dan kesepian. Ia juga harus menghadapi musuh yang begitu kejam (ayat 15-19). Padahal sejarah Israel telah memperlihatkan bagaimana ALLAH tampil menyelamatkan dan menjadi Pembela bagi umat-Nya (ayat 4-6). Akibat hal itulah, maka banyak orang yang mencibirkan bibir karena menganggap bahwa penderitaan Pemazmur adalah akibat dosanya (ayat 8-9). Merenungkan situasi yang menyedihkan tersebut, Pemazmur kembali mengalihkan pandangannya pada ALLAH. Pemazmur meminta agar ALLAH tidak menjauhi dia (ayat 12). Pemazmur justru  berserah kepada TUHAN, apa pun  kegelapan persoalan yang sedang melingkupinya. Dengan penuh iman, Pemazmur mengingat pemeliharaan TUHAN sejak lahir  sampai dengan saat ini.

Penderitaan hidup memang tampil dalam berbagai bentuk. Mungkin saja berupa perlawanan dari teman atau orang yang kita kasihi, bisa juga berupa pengalaman fisik atau mental yang menyakitkan, atau kegagalan yang menyebabkan rasa frustasi yang dalam. Namun semua itu harus dipandang berdasarkan perspektif yang tepat. Pengalaman orang Kristen bukanlah nasib buruk yang melulu menyebabkan kesedihan dan penderitaan. Meski demikian, pencobaan (Yak. 1:2-4, 12), penganiayaan (Yoh. 15:18; 2Tim. 2:12), dan penderitaan (Flp. 1:29) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman hidup orang Kristen. Karena melalui kesusahan, iman kita diperdalam (Yak. 2:3), persekutuan kita dengan ALLAH diperkaya (Flp. 3:10) dan kita mengalami sukacita dalam kesulitan (Yoh. 17:13; 1Ptr. 4:13; 2Kor. 12:10).

Refleksi:

Dalam keheningan, bayangkanlah Saudara berada di sebuah taman. Di taman itu ada beberapa tanaman berduri semacam kaktus, euforbia, mawar, dan bougenvil. Mereka berbunga  indah namun duri-durinya tajam dan bisa menusuk setiap orang yang mendekatinya. Bila Saudara ingin menikmati keindahan bunga-bunga ini, maka Saudara tidak bisa melemparkan tanaman ini keluar dari taman. Mereka harus tetap ada di situ, meskipun Saudara tidak menyukai duri-durinya. Betapa pun sakitnya tertusuk duri namun  Saudara tetap mempertahankan  tanaman-tanaman itu sebab keindahan warna-warni bunganya sungguh mempesona dan membanggakan. Demikian pula kondisi taman kehidupan kita. Adakah duri-duri penderitaan yang sedang menusuk Saudara hingga kesakitan dan marah? Terimalah setiap kesakitan dalam persoalan dan penderitaan hidup sebagai bagian dari keindahan yang sedang TUHAN hadirkan dalam kehidupan ini.

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk terus berserah dalam rancangan kebaikan-Mu walau aku dalam jurang kekelaman dan penderitaan

Tindakanku.

Setiap pagi aku akan menyemangati diriku dan orang lain dengan berkata: “ Teruslah  berjuang  di tengah bahaya yang menantang! Teruslah berserah dalam rancangan kebaikan ALLAH!”.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*