suplemenGKI.com

Kejadian 25:19-34

Di sebuah jalan setapak di lereng perbukitan, dua ekor kambing sedang berhadap-hadapan. Tampaknya mereka perlu melewati jalan sempit itu namun terhalang oleh kambing yang ada di hadapannya. Setelah beberapa saat mereka saling menatap, tampaklah salah seekor kambing bertiarap sehingga kambing yang lain bisa melewatinya dan akhirnya semua kambing bisa meneruskan perjalanan.
Pemandangan itu sungguh menakjubkan. Untuk mendapatkan jalan, mereka tidak bertengkar dan saling seruduk . Seolah-olah mereka saling mengerti kebutuhan dan persoalan sesamanya sehingga ada yang mengalah dan memberi diri untuk dilewati. Mereka bekerjasama dengan baik; bukan menjadi penghalang tapi justru membangun jembatan yang menghubungkan.
Dalam kehidupan kita sehari-hari manakah yang lebih banyak kita jumpai? Persaingan yang saling menghancurkan ataukah solidaritas yang mempererat hubungan? Di era globalisasi ini orang hidup tanpa sekat. Satu sama lain saling berkait, saling membutuhkan dan saling bergantung. Sekalipun demikian era globalisasi juga membuka peluang besar akan adanya persaingan atau kompetisi di banyak bidang kehidupan. Sesungguhnya kompetisi bukanlah hal yang negatif bahkan akan menjadi berkat apabila diimbangi dengan solidaritas atau setiakawan dan kerjasama. Sayangnya seringkali kompetisi menyeret orang untuk bersaing sebebas-bebasnya sehingga menghancurkan dan mematikan kehidupan orang lain.
Alkitab juga mencatat persaingan dua orang saudara kembar. Sejak dalam kandungan, Esau dan Yakub sudah bertolak-tolakan. Saat dewasa, saudara kembar yang seharusnya saling menjaga justru hidup dalam persaingan yang tidak wajar. Yakub mengingi hak kesulungan Esau. Untuk itulah Yakub tidak memandang Esau sebagai saudara yang perlu mendapatkan kemurahan hati. Yakub tidak mau berbagi makanan yang ia miliki bahkan kepada Esau, ia menjual masakan kacang merah yang ada di tangannya demi ambisi untuk mendapatkan hak kesulungan. Bukankah seharusnya Yakub solider dengan Esau yang sedang lelah setelah bekerja di ladang, lalu memberikan sebagian makanannya untuk saudara kembarnya? Namun kenyataannya, Yakub tak sedikitpun berbelas kasihan apalagi solider dengan kelelahan Esau malahan justru memanfaatkannya demi ambisi mendapatkan hak kesulungan. Yakub memandang Esau bukan sebagai saudara tapi sebagai saingan (rival) yang berbahaya. Inikah sikap yang dikehendaki TUHAN? Pasti bukan!
TUHAN menginginkan kita untuk selalu solider, peduli dan setiakawan, mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22:39). Marilah kita menyadari bahwa kita tak mungkin hidup sendiri di dunia ini. Kita butuh orang lain. Oleh karena itu jangan jadikan orang lain sebagai saingan yang perlu dikalahkan atau dihancurkan. Jangan tempatkan kawan menjadi lawan. Ingatlah bahwa semua orang di sekitar kita adalah kawan yang perlu dirangkul dan diajak bekerjasama untuk membangun kehidupan bersama yang penuh damai sejahtera. Mari terus bangun dan kembangkan solidaritas bukan rivalitas. Mari berkawan dengan penuh kesetiakawanan. TUHAN, Sang Kawan Sejati, selalu memberkati.
(sAp)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*