suplemenGKI.com

Rabu,31 Maret 2021

30/03/2021

Kemurahan Hati Allah

Mazmur 114

Pengantar

Dalam perenungan kemarin kita sempat “berkenalan” dengan Allah sebagai sumber kehidupan. Hari ini kita akan merenungkan lebih lanjut kenyataan bahwa Allah adalah sumber kehidupan. Ini merupakan kenyataan yang seringkali terkubur dan terabaikan, terutama pada waktu kita mengalami pergumulan hidup.

Pemahaman

-    Apa yang langsung terbayang dalam benak kita bila mendengar kalimat, “Israel keluar dari Mesir”?

-    Apa yang muncul dalam bayangan kita bila mengingat kisah perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian?

Mazmur 114 ini berbicara mengenai kemurahan hati Allah dalam kehidupan umat-Nya. Kemurahan hati Allah itu sudah dicurahkan sejak awal kehidupan umat-Nya. Frasa “Pada waktu Israel keluar dari Mesir” dalam ayat 1 merupakan cara Pemazmur menggambarkan awal mula kehidupan bangsa Israel secara ringkas. Setiap kali mengingat “Israel keluar dari Mesir”, kita akan mengingat betapa dahsyatnya karya Allah melalui 10 tulah. Dan yang tidak kalah dahsyatnya adalah bila kita mengingat perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Kisah perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian digambarkan secara puitis oleh Pemazmur dalam ayat 3-6. Namun gambaran yang puitis tersebut bukanlah gambaran yang lebay. Laut yang melarikan diri (ay. 3 dan 5) merujuk pada terbelahnya Laut Merah (Kel. 14:15-31), yang disejajarkan dengan sungai Yordan yang berhenti mengalir (Yos. 3). Nampaknya Pemazmur menyinggung dua peristiwa yang serupa tapi tak sama itu untuk meringkaskan kisah perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Terbelahnya laut merah terjadi di awal perjalanan bangsa Israel, sedangkan terbelahnya sungai Yordan terjadi di akhir perjalanan bangsa Israel. Gunung yang melompat (ay. 4 dan 6) merujuk pada bergetarnya gunung Sinai tatkala TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur (Kel. 19:18).

Sebagai penutup dari mazmur ini, Pemazmur mengajak bumi – termasuk umat Allah di dalamnya – untuk merespons kehadiran Allah yang dahsyat itu. Kedahsyatan kehadiran Allah tersebut sekali lagi digambarkan sebagai kedahsyatan yang memelihara kehidupan umat-Nya. Pemeliharaan yang dahsyat itu bahkan dapat dilakukan Allah di saat-saat yang sepertinya mustahil. Di padang gurun yang tandus itu Allah membuat pancaran air yang menyegarkan. Bahkan air itu memancar dari gunung batu (Kel. 17: 6; Bil. 20:11). Dan semua itu dilakukan Allah bagi umat-Nya yang seringkali berkeluh kesah serta marah. Itulah sebabnya kita dapat melihat bahwa kedahsyatan karya Allah tersebut merupakan kedahsyatan dari kemurahan hati Allah.

Refleksi (kontemplasi):

Kemurahan hati Allah yang kita renungkan hari ini dapat digambarkan sebagai pancaran mata air di tengah derai air mata umat-Nya. Dengan kata lain, kemurahan hati Allah ini adalah kemurahan hati yang memelihara kehidupan umat-Nya. Bukankah kadang kita merasa hidup kita tidak dipelihara Allah? Belajar dari mazmur 114 ini, mari kita terus mengingat kemurahan hati Allah yang memelihara kehidupan umat-Nya.

Tekad:

Doa: Bapa surgawi, tolonglah saya untuk terus mengingat bahwa Engkau sanggup membuat pancaran mata air bagi umat-Mu yang sedang dibanjiri derai air mata. Amin.

Tindakan:

Hari ini saya akan menyanyikan lagu “Kemurahan-Mu Lebih dari Hidup” sebanyak 3x, untuk mengingat kemurahan hati Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«