suplemenGKI.com

Rabu,24 Januari 2018

23/01/2018

PERTIMBANGAN KASIH SEBAGAI SOLUSI

1 Korintus 8 : 1 – 13 

 

Pengantar
Dalam menghadapi sebuah perbedaan pandangan, termasuk dalam hal pengetahuan atau ajaran iman maka tidak mudah bagi seseorang untuk bersikap mengalah, kecuali jika ada fakta ‘baru’ yang sulit dilawan kebenarannya. Juga akan semakin sulit untuk mengalah (baca: menerima) jika kita menganggap bahwa pengetahuan kita kadarnya lebih baik dari orang atau kelompok berbeda yang kita hadapi. Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menghadapi sebuah persoalan yang ada kaitannya dengan pengetahuan iman yang kadarnya berbeda di tengah Jemaat?  Mari kita membaca dan merenungkan surat 1 Korintus 8 : 1 – 13  untuk mengetahui tawaran atau bahkan jawaban yang terdapat di sana.

Pemahaman

Ayat  1 – 6           :  Apa yang menjadi persoalan dalam jemaat di Korintus?

Ayat  7 – 10         :  Bagaimana pemahaman yang benar tentang persoalan tersebut?

Ayat  11 – 13       :  Bagaimana sikap Rasul Paulus dalam situasi tersebut?

Persoalan dalam jemaat di Korintus adalah tentang boleh tidaknya makan daging persembahan berhala. Dan hal ini membawa perpecahan dalam jemaat, bahkan terjadi ‘kesombongan’ pengetahuan tentang pemahaman yang paling benar. Dengan demikian tidak saja membawa ketegangan ‘pengetahuan iman’ tapi juga memunculkan sikap yang kurang dilandasi kasih dan semangat membangun di antara sesama orang beriman (dapat kita sebut sebagai berkurangnya ‘perbuatan iman’). Maka Rasul Paulus mengingatkan tentang pentingnya kasih yang membangun dan hal mengasihi ALLAH. Kasih lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan iman harus disertai perbuatan iman yang sejalan.

Pemahaman yang benar tentang persoalan tersebut adalah bahwa yang penting bukan pada kadar ‘pengetahuan iman’ tentang boleh atau tidaknya makan daging persembahan berhala, tetapi pada adanya pertimbangan hati nurani. Bahkan disebutkan bahwa makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada ALLAH (tidak ada untung atau ruginya), dan justru dengan sikap kita untuk makan atau tidak makan daging berhala, bisa menjadi sandungan bagi saudara seiman. Pertimbangan hati nurani, atau saya bahasakan ‘pertimbangan kasih’ menjadi jawaban (solusi) yang bijaksana untuk situasi ini.

Pernyataan sikap Rasul Paulus lahir dari pertimbangan kasih, yaitu: “Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (ayat 13). Kepentingan saudara seiman yang lebih lemah menjadi pilihan Rasul Paulus daripada menunjukkan ‘pengetahuan iman’ yang perlu terus tumbuh makin dewasa. 

Refleksi
Marilah kita mengambil waktu hening sejenak dan merenungkan:

  • Manakah yang kita lebih utamakan: pengetahuan iman atau perbuatan iman?
  • Bagaimana kita bersikap jika menghadapi situasi ketegangan di seputar pengetahuan iman tertentu?

Tekad
Ya ALLAH, buatlah aku memiliki pertimbangan kasih yang berasal dari-MU untuk bersikap benar dalam setiap ketegangan pengetahuan ataupun ajaran iman.

 

Tindakanku
Mulai hari ini, aku akan lebih memberi ruang pada pertimbangan kasih dalam menyikapi perbedaan pandangan di seputar lingkungan hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«