suplemenGKI.com

Rabu, 9 Mei 2012

08/05/2012
Mereka Menanti

Mereka Menanti

Kisah Para Rasul 10:23-43

 

Mereka Menanti

 

Selama dua hari terakhir ini kita melihat bagaimana Allah “menjembatani” pertemuan antara Kornelius dengan Petrus. Hari ini kita akan melihat apa yang terjadi ketika keduanya benar-benar bertemu, serta menarik poin-poin perenungan dari peristiwa tersebut.

- Apakah Saudara memiliki pengalaman yang cukup berkesan ketika bertandang ke rumah seseorang? Coba ceritakan!

- Dapatkah Saudara menyebutkan, apa saja sikap yang ditunjukkan Kornelius dalam menyambut kedatangan rasul Petrus?

- Menurut Saudara, bagaimanakah perasaan Kornelius dalam menantikan kedatangan rasul Petrus? Bagaimana pula perasaan Petrus ketika berjalan menuju rumah kediaman Kornelius?

 

Renungan

Kornelius sedang menantikan kedatangan rasul Petrus beserta rombongannya. Istilah dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana sikap Kornelius dalam menantikan kedatangan rasul Petrus beserta dengan rombongannya ini merupakan istilah yang sangat kuat, sebab istilah tersebut berarti penantian yang melibatkan perasaan, yaitu suatu harapan dan kecemasan. Pengertian ini pulalah yang nampak dalam beberapa perilaku Kornelius. Coba perhatikan, bagaimana Kornelius telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya untuk berkumpul menyambut kedatangan rasul Petrus beserta rombongan. Jadi ini bukan penantian sambil lalu, melainkan penantian dengan sepenuh hati. Kornelius telah memperhitungkan lama perjalanan antara Kaisarea, tempat tinggalnya, dengan Yope (tempat Petrus menetap sementara waktu). Kornelius sadar bahwa orang yang akan datang ke rumahnya adalah tamu spesial, sebab Tuhan yang ia sembah selama ini sendirilah yang telah “memberikan rekomendasi” atas orang ini. Adalah suatu kebanggaan kalau ada orang “penting” datang ke tempat kita. Oleh karena itu tidaklah heran kalau Kornelius merasa sukacita, meski harus menanti dengan “harap-harap cemas”, dan ingin membagikan sukacita ini kepada orang-orang terdekatnya, yaitu para sanak saudara serta para sahabat. Sebagai seorang perwira pasukan Italia, Kornelius tentulah orang yang sibuk. Namun ia meluangkan waktu untuk secara khusus menyambut kedatangan utusan Allah itu. Dan ketika rasul Petrus masuk ke dalam rumah, Kornelius tersungkur di depan kaki Petrus serta menyembah Petrus. Di satu sisi, sikap ini dapat menimbulkan salah paham, seakan Kornelius menganggap Petrus adalah Tuhan yang layak untuk disembah. Itulah sebabnya rasul Petrus mengklarifikasi dengan menegakkan Kornelius seraya berkata, “Bangunlah, aku hanya manusia saja.” Tapi di sisi lain, kita juga dapat melihat sikap Kornelius ini sebagai suatu tindakan yang terkait dengan sukacitanya.

Sikap Kornelius ini mewakili sikap ribuan orang yang dengan rindu menantikan lawatan Allah. Sama seperti Kornelius, mereka adalah orang-orang yang membutuhkan kabar sukacita, yaitu keselamatan. Pada waktu Allah mengijinkan kita untuk berjumpa dengan orang yang berbeda dengan kita, bahkan orang yang membuat kita merasa “najis” bila berinteraksi dengannya, apakah kita menyadari adanya rencana Allah agar kita membawa kabar sukacita kepada mereka? Bayangkan betapa sukacitanya orang itu ketika menerima keselamatan dari Kristus; dan betapa sukacitanya Allah ketika menyambut pertobatan orang itu, maka kita pasti takkan keberatan untuk melayani mereka.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»