suplemenGKI.com

Rabu, 9 Januari 2013

08/01/2013

Kisah Para Rasul 7:54 – 8:2

 

Kemuliaan Tuhan Nyata dalam Kehidupan Hamba-NYA

 

Pengantar
Dalam hidup setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya akan Kristus, tentu ada suatu kerinduan untuk menyatakan kemuliaan TUHAN dalam hidupnya. Akan tetapi acapkali kerinduan itu masih terlalu abstrak. Perenungan kita hari ini memberikan gambaran konkrit tentang hal tersebut.

 

Pemahaman
Siapakah Stefanus di mata Saudara? Apa saja yang Saudara ketahui tentang Stefanus? Mengapa orang-orang saleh meratapi kematian Stefanus dengan sangat?

Mungkin kalau di dalam sebuah film atau sinetron, Stefanus dapat dikategorikan sebagai pemain figuran. Ia baru muncul pada pasal 6, lalu dibunuh pada pasal 7. Namun bila kita membaca kitab Kisah Para Rasul secara seksama, maka kita akan mengetahui bahwa kualitas Stefanus bukanlah sekelas pemain figuran. Stefanus adalah pribadi yang luar biasa. Ia seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Kis. 6:5), penuh dengan karunia dan kuasa (Kis. 6:8), mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak (Kis. 6:8), cukup cerdas sehingga sanggup untuk bersoal jawab dengan Jemaat Libertini bersama dengan orang Yahudi dari kilikia serta Asia (Kis. 6:9), tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara (Kis. 6:10). Akibatnya mereka menghasut beberapa orang dan menyebar fitnah sehingga Stefanus disergap, diseret ke hadapan Mahkamah Agama (Kis. 6:12). Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (Kis. 6:15). Dan “Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.” (Kis. 7:54). Akhirnya mereka menghukum mati Stefanus dengan hukuman rajam batu. Dan di sini pun kita melihat kualitas Stefanus yang luar biasa. Sementara anggota Mahkamah Agama itu penuh kemarahan dan kebencian sehingga dengan berteriak-teriak dan menutup telinga menyerbu Stefanus dan menyeretnya ke luar kota (Kis. 7:57-58), Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah (Kis. 7:55). Sementara para pemuka agama itu melemparkan batu demi batu kepadanya, Stefanus berseru, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia (Kis. 7:60). Sebuah doa yang meneladani doa Kristus di atas kayu salib itu menjadi puncak penggambaran kualitas hidup Stefanus.

 

Refleksi
Kadang kita tidak berani menyatakan kebenaran karena takut terhadap resikonya. Stefanus meneladankan bahwa orang yang hidup takut akan Tuhan tidak akan takut akan bahaya apapun. Keberanian Stefanus dalam menyatakan kebenaran merupakan wujud kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus.

Tekad
Dunia kita yang korup ini membutuhkan sosok “Stefanus”, yang takut akan Tuhan sehingga tidak takut akan bahaya apapun dalam menyatakan kebenaran, terutama keselamatan di dalam Kristus. Mari kita bertekad untuk menyatakan kebenaran itu kepada orang-orang yang ada di sekitar kita.

 

Tindakan
Sebagai wujud menyatakan kebenaran itu, kita dapat mengirimkan sms saat teduh minimal kepada 5 orang.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«