suplemenGKI.com

MELINTASI TEMBOK

Yesaya 12:1-6

 

PENGANTAR
Salah satu faktor yang turut berperan bagi runtuhnya tembok Berlin di tahun 1990 adalah keinginan para pelintas batas/tembok, dari Jerman Timur menuju Jerman Barat;  meski taruhannya nyawa, mereka tetap berusaha melintasi tembok  karena berkeyakinan  ada kehidupan yang lebih baik di balik tembok.   Alasan yang sama juga melatar belakangi ajakan Yesaya dalam bacaan hari ini.  Seperti apa kelanjutannya, mari kita membaca dan mempelajarinya.

PEMAHAMAN

Ayat 1, 4-5:  Bagaimana respons nabi menanggapi tindakan Tuhan di tengah Israel?

Ayat 2, 6:  Apa yang mendasari respons sehingga nabi bersikap demikian?

Ayat 2, 6:  Allah yang seperti apakah yang dipahami nabi?

Kesulitan hidup seperti apakah yang pernah saudara alami?

Bagaimana saudara meresponi keadaan tersebut?

Seringkali kita lebih berfokus pada keadaan sulit yang berujung pada ketidakmampuan diri menghadapi keadaan yang sedang terjadi.  Wajar bila kemudian untuk memandang jauh ke depan, melintasi batas persoalan, juga menjadi hal yang sulit dilakukan.  Alhasil, persoalan seolah menjadi lebih besar dan berat dari keadaan sebelumnya.   Dibutuhkan sikap iman yang benar untuk bisa mengatasinya, seperti yang diyakini Yesaya.  Nabi meminta umat Allah untuk bersyukur, “bersyukurlah kepada TUHAN, panggilan namaNya, beritahukanlah perbuatanNya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa namaNya tinggi luhur” (Ay.4).  Sikap nabi merupakan bagian dari out of box, agar mereka tidak hanya terpaku pada penderitaan, namun juga tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan.  Tentu ada alasannya, mengapa nabi Yesaya bersikap demikian??  Ayat 2 menegaskan sikap iman nabi, “Allah itu keselamatanku;  aku percaya dengan tidak gementar”;  selain itu nabi Yesaya percaya, “Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu.”

Sikap iman nabi Yesaya semestinya menjadi teladan bagi kita.  Sikap iman yang tidak mau dikalahkan keadaan.  Sikap iman yang mampu ‘melintasi tembok’ persoalan.  Tidak berfokus pada yang terjadi tetapi kepada Allah yang senantiasa hadir di setiap keadaan apapun.  Bukan mengalihkan persoalan seolah semua baik-baik saja;  atau lebih tepatnya penolakan. Tapi meyakini bahwa Allah ada di setiap musim kehidupan.  Fokus kepada Allah memampukan kita senantiasa mengakui bahwa selalu ada karya Allah bagi hidup dan persoalan yang kita hadapi.  Hal inilah yang memampukan kita untuk menaikkan syukur atas setiap pertolongan yang Allah lakukan dalam kehidupan kita.

REFLEKSI                                                                            
Mari merenungkan: benarkah Allah ada di setiap musim kehidupan kita?

TEKADKU
Aku mau mempunyai iman yang melintasi tembok persoalanku.

TINDAKANKU
Aku senantiasa bersyukur dan melakukan hal terbaik untuk menyelesaikan persoalanku bersama Allah yang senantiasa hadir bagiku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«