suplemenGKI.com

Rabu, 9 Agustus 2017

08/08/2017

Mazmur 85:2-9

 

Merindukan Hidup Dalam Pemulihan Tuhan

Pengantar:
            Ketika seseorang masih kanak-kanak, ia merasakan betapa: indahnya, menyenangkannya dan amannya berada dalam dekapan kasih orangtuanya. Tetapi ketika anak sudah akil balig, dia tidak lagi merasakan apa yang pernah ia rasakan semasa masih kanak-kanak. Maka tidak jarang, seseorang ketika ia sudah akil balig dilanda: kesulitan, pergumulan dan tantangan hidup yang berat ia akan sangat merindukan apa yang pernah: dirasakan, dinikmatinya ketika masih kanak-kanak. Namun tentu hal itu tidak mungkin terjadi lagi, apalagi jika orangtuanya sudah tidak ada lagi bersamanya, maka kerinduan itu hanya tinggal kerinduan.

Pemahaman:

  1. Apakah yang bisa dipahami dari doa pemazmur di Mazmur 85:2-4?
  2. Apakah yang tersimpan dibalik doa pemazmur dalam Mazmur 85:5-9?

Sejarah perjalanan hidup bangsa Israel memang penuh dengan dinamika. Ketika mereka mengalami penindasan di Mesir, mereka sangat merindukan pembebasan, sehingga mereka berseru dan berteriak kepada Tuhan. Maka Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan mereka. Ketika mereka telah dibebaskan dan di berikan tanah perjanjian yang melimpah dengan berkat, itulah masa-masa indah dalam dekapan Tuhan. Itulah sesungguhnya yang terungkap dalam doa pemazmur di ayat 2-4. Tetapi sebagaimana yang kita ketahui, bahwa bangsa Israel adalah bukan bangsa yang mudah untuk mempertahankan kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan, tetapi bangsa yang suka memberontak, suka berpaling pada ilah-ilah lain, bahkan dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, maka mereka harus mengalami hukuman Tuhan. Ketika mereka mengalami hukuman Tuhan melalui bangsa kafir, mereka baru sadar betapa menderitanya jika hidup jauh dari Tuhan. Jika kita mencermati dengan baik ayat 5-9, itu adalah ungkapan kerinduan umat Israel akan dekapan kasih, naungan, pemeliharaan dan berkat-berkat Tuhan. Dalam doa pemazmur itu terkandung permohonan demi permohonan, berharap Tuhan memulihkan keadaan mereka yang sedang menderita karena ketidaktaatan, karena ketidaksetiaan, karena ketegaran hati  mereka sendiri.

 

Refleksi:
Mari kita merenungkan. Terkadang kita sama seperti umat Isarel, Allah telah menyelamatkan, memberkati dan memelihara kita dengan baik, tetapi tidak jarang kita berubah setia dan tidak taat kepada Tuhan. Ingat itu akan dibayar dengan penderitaan, kegagalan dan bahkan kehancuran. Rindukah kita dipulihkan? Kembalilah untuk setia dan taat kepada Tuhan.

 

Tekad:
Tuhan, tolonglah saya agar tidak mudah berpaling dari Engkau, apapun yang menggoda saya.

 

Tindakan:
Senantiasa belajar mempertahankan kesetiaan, ketaatan dan kasih kepada Tuhan  yang telah menyelamatkan dan memberkati hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*