suplemenGKI.com

Rabu, 8 April 2015

07/04/2015

Mazmur 133

MEMBANGUN PERSAUDARAAN

 

PENGANTAR
Pengalaman sosial menunjukkan bahwa lebih mudah memicu konflik yang berujung pada perpecahan dari pada membangun persaudaraan di tengah perbedaan.  Mari kita belajar melalui bacaan hari ini yang mengajak kita untuk membangun persaudaraan dengan rukun. 

PEMAHAMAN
Ayat 1:  Apa yang digambarkan melalui ayat ini tentang persaudaraan?
Ayat 2-3a: Bagaimana persaudaraan yang rukun digambarkan di bagian ini?
Ayat 3b: Bagaimana tanggapan Tuhan atas persaudaraan yang rukun?

Bagaimana pengalaman saudara terkait dengan upaya membangun persaudaraan?

Faktor-faktor apa yang mendorong dan menghalangi upaya tersebut?

Bacaan hari ini mengingatkan kita kepada pepatah Jawa yang mengatakan, rukun agawe santosa, crah agawe bubrah (rukun membuat sejahtera dan perpecahan mendatangkan kehancuran).   Pepatah ini menyampaikan pesan bahwa sejahtera maupun perpecahan yang berujung pada kehancuran tidak mungkin terjadi begitu saja.  Keduanya merupakan hasil dari tindakan yang dilakukan dengan sengaja, yaitu rukun atau perpecahan.  Kata rukun atau “diam bersama dengan rukun” (ayat 1) menjadi kata/frasa kunci dalam membangun persaudaraan yang harmonis.  Sebaliknya perpecahan atau konflik karena tidak mau rukun menjadi sumber kehancuran persaudaraan.  Pemazmur mengajak untuk membangun persaudaraan yang harmonis.

Hubungan yang harmonis dapat terjadi melalui upaya saling memberi hormat dan saling menghargai sesama saudara.  Keharmonisan tersebut disimbolkan melalui tradisi meminyaki kepala.  Dengan melakukannya, seseorang meneruskan tradisi penerimaan dan penghormatan pada orang lain atau orang asing.  Penerimaan dan penghormatan yang tulus berguna untuk menciptakan dan menguatkan kerukunan.  Simbol yang dipakai untuk menggambarkan persaudaraan adalah minyak yang dicurahkan di atas kepala Harun, yang kemudian turun ke leher dan jubahnya, mengingatkan akan penobatannya  sebagai imam.  Harun menerima berkat rohani Tuhan.  Embun gunung Hermon adalah perumpamaan untuk air yang terus melimpah di setiap cuaca.  Apa yang digambarkan di sini menegaskan pesan sejahteranya hidup dalam persaudaraan yang rukun.  Suatu keadaan yang Tuhan senangi.  Itu sebabnya dikatakan bahwa “kesanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (ayat 3b).

 

REFLEKSI
Bagaimana dengan keadaan kita atau komunitas dimana kita bergabung, adakah kedamaian serta persaudaraan dirasakan sebagai berkat yang memberi kehidupan bagi setiap pribadi yang terlibat di dalamnya?  Sudahkah kita berperan serta membangun suasana yang penuh kasih;  atau justru sebaliknya, menghasut dan memecah persekutuan?  Pemazmur mengajak siapapun untuk terlibat aktif dalam membangun persaudaraan.  Mari renungkan: Satu musuh kebanyakan, namun seribu teman itu kurang.

TEKADKU
Tuhan aku mau belajar membangun persaudaraan di dalam komunitas (persekutuan), di mana Tuhan tempatkan aku.

TINDAKANKU
Aku mau terlibat aktif membangun persaudaraan yang rukun, baik di gereja maupun di tempat kerja.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*