suplemenGKI.com

Mazmur 103:1-5 

Pujilah TUHAN Hai Jiwaku 

Memuji Tuhan bukanlah tindakan yang asing bagi kita, orang Kristen. Namun melalui mazmur 103 ini, kita akan belajar lebih banyak hal lagi tentang memuji Tuhan. Kita dapat merasakan kerinduan yang besar dari Pemazmur untuk memuji Tuhan, sambil bertanya pada diri sendiri, adakah kita memiliki kerinduan seperti itu.

-  Pernahkah Saudara mengajak diri sendiri untuk memuji Tuhan? Apakah menurut Saudara ajakan semacam itu wajar? Mengapa Pemazmur mengajak dirinya sendiri untuk memuji Tuhan?

-  Cobalah daftarkan alasan apa saja yang dikemukakan Pemazmur untuk memuji Tuhan! Dari alasan-alasan tersebut, alasan manakah yang pernah Saudara alami dan manakah yang belum pernah Saudara alami? 

Renungan

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Mungkinkah kita mengajak diri sendiri untuk memuji Tuhan? Sebenarnya tanpa disadari kita sering berdialog dengan diri kita sendiri. Pada saat seperti itu kita sedang mengambil jarak dengan diri kita, melakukan evaluasi diri serta merenung tentang berbagai hal. Dalam pengertian seperti inilah Pemazmur mengajak dirinya sendiri untuk memuji TUHAN. Ajakan Pemazmur ini merupakan hasil perenungan akan apa yang sudah Allah kerjakan bagi dirinya.

Ada lima perbuatan baik Allah yang telah dialami Pemazmur, yaitu: mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai dan memuaskan. Dalam Perjanjian Lama, penyakit selalu dihubungkan dengan dosa. Konsep ini sangat nampak kalau kita melihat Mazmur 38 misalnya. Itu sebabnya Pengarang mazmur 103 ini menghubungkan pengampunan dengan penyembuhan. Bahkan tidak menutup kemungkinan Pemazmur mengalami sakit keras sampai hampir meninggal, sebab dalam ayat 4 sempat disinggung tentang lobang kubur. Kesembuhan dari sakit yang sedemikian parah itu tentu saja dimaknai sebagai wujud kasih setia Tuhan atas diri Pemazmur. Dengan menggunakan istilah “memahkotai” nampaknya Pemazmur juga merasa diperlakukan sedemikian terhormat dan berharga tatkala mendapatkan kasih setia Tuhan itu.

Alasan terakhir yang dikemukakan Pemazmur adalah bahwa Allah memuaskan segala keinginannya dengan hal-hal yang baik dan berkualitas baik. Pemberian yang baik selalu memberikan kesegaran bagi jiwa, sehingga membuat orang yang menerimanya seakan memiliki energi ekstra. Stamina prima ini digambarkan seperti rajawali. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yesaya, “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Bahkan ketika para teruna muda yang terkenal dengan staminanya yang sangat prima menjadi lesu, mereka yang bagai rajawali itu tetap tidak tergoyahkan.

Mengingatkan jiwanya akan segala kebaikan Tuhan yang luar biasa ini, tak ada pilihan lain bagi Pemazmur selain mengajak batiniahnya untuk memuji Tuhan. Apakah kita juga mengingatkan jiwa kita akan segala kebaikan Tuhan? 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*