suplemenGKI.com

MULIAKAN-LAH TUHAN

Mazmur 146:1-4

 

Pengantar
C.S. Lewis menemukan pemahaman yang sangat indah ketika ia bergumul tentang memuliakan Allah yang sering muncul dalam kitab Mazmur. Ia pun menjelaskan: “ada hal yang sering dilewatkan oleh manusia dalam memuji Tuhan. Seringkali kita hanya berpikir memuji itu sekedar kewajiban belaka  dan  mengabaikan kesukaan yang spontan mengalir dalam pujian itu. Dunia menari bersama kita ketika kita memuji. Ketika seorang kekasih memuji pasangannya, pembaca terhadap bacaan kesukaannya, pelancong terhadap tem­­pat favoritnya. Kita mengalami kesukaan yang melimpah ketika kita memuji apa yang kita sukai, karena pujian bukan hanya mengungkapkan sukacita tetapi menyem­pu­rna­kannya. Pujian adalah penyempurnaan yang ditentukan oleh Allah”. Saudara, Allah menciptakan kita di dunia ini untuk memuliakan nama-Nya. Kita memuji dan memuliakan Allah atas sukacita, kasih dan pengharapan yang diberikan pada kita.

Pemahaman

  • Ayat 2             : Komitmen apakah yang akan dilakukan oleh pemazmur?
  • Ayat 3-4         : Mengapa pemazmur mau melakukan komitmennya?

Mazmur 146 adalah mazmur yang mencerminkan keadaan, pemikiran, pada zaman pasca-pembuangan. Mazmur ini diawali dan diakhir dengan kata “Haleluya”, yang mana kata ini merangkum banyak pujian kepada Allah yang tidak pernah meninggalkan umat ciptaan-Nya. Ia mau mengambil komitmen untuk taat memuliakan Tuhan dan bermazmur bagi Allah selagi ia ada (ayat 2). Pemazmur mengalami dan merasakan kebaikan Tuhan di dalam hidupnya. Oleh sebab itulah, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia pun ingin mengajak para pembaca untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan tetap percaya kepada-Nya. Pemazmur mengingatkan untuk tidak percaya pada para bangsawan dan kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan (ayat 3-4). Tampaknya, ia sendiri telah mengalami bagaimana mengandalkan manusia. Kekecewaan dan penderitaan akibat mengandalkan manusia membuatnya tersadar bahwa manusia itu lemah. Sekalipun manusia di elu-elukan oleh karena kedudukannya,  ada kalanya manusia juga rapuh, hidup dalam keangkuhan, dan mengabaikan sesamanya. Pemazmur menyadari bahwa ia tak bisa berlarut-larut hidup bergantung pada manusia, karena hal itu adalah kesia-siaan. Pertolongan dari Tuhan itu nyata dan tak dapat dibatasi oleh apapun. Namun, pertolongan yang didapat dari manusia hanyalah sesaat dan tidak tuntas. Pada akhirnya ketika manusia itu mengalami kematian, maka mereka akan kembali ke tanah. Apapun yang menjadi pikiran, rencana, kekuasaan, akan lenyap seketika.

Refleksi
Pandanglah sejenak keluar dan renungkanlah: Tuhan Allah telah menciptakan kita dengan berbagai hal yang kita miliki. Apakah dengan kecerdasan, pekerjaan, prestasi sekolah, pelayanan, dan kesuksesan yang dimiliki telah kita gunakan untuk memuliakan Tuhan atau justru memuliakan diri sendiri? Tindakan nyata apakah yang saat ini sudah saudara lakukan sebagai bentuk memuliakan Tuhan dalam hidup sehari-hari?

Tekadku
Tuhan, ajarku untuk memuliakan nama-Mu di segala aspek kehidupanku dengan bersedia menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekitarku

Tindakanku
Hari ini aku akan memuliakan Tuhan melalui apa yang Tuhan percayakan kepadaku…… (sebutkan hobi/talenta) untuk menjadi saluran kasih Tuhan bagi salah seorang saudara seiman

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«