suplemenGKI.com

Rabu, 7 Maret 2012

06/03/2012
Keagungan Tuhan

Keagungan Tuhan

Mazmur 19

Hukum Alam dan Hukum yang di Dalam

 Kitab Mazmur merupakan kitab pujian. Namun ada sesuatu yang menarik dari pujian yang ada di dalam Mazmur 19 ini. Melalui kidung pengagungan kali ini, kita akan belajar mengenal Allah dengan lebih dalam dengan cara melihat ke luar tapi sekaligus juga melihat ke dalam.

-  Pernahkah Saudara meluangkan waktu untuk melihat pemandangan alam sekitar? Bagaimana perasaan Saudara ketika menyaksikan cakrawala, langit beserta dengan segala benda yang ada di langit?

-  Apakah arti Taurat Tuhan bagi Saudara? Seberapa besar kerinduan Saudara terhadap Taurat Tuhan itu? Mengapa demikian?

Renungan

Meskipun Mazmur 19 ini merupakan mazmur yang mengagungkan kemuliaan Tuhan, namun Mazmur ini tidak dibuka dengan ajakan atau seruan Pemazmur untuk memuji Tuhan. Sebaliknya, Mazmur ini dimulai dengan sebuah ajakan untuk memperhatikan pujian yang disajikan oleh alam. Pujian itu seakan tak henti dikumandangkan di mana saja dan kapan saja, karena hari meneruskan berita kemuliaan itu kepada hari. Istilah yang dipakai untuk meneruskan di sini dapat digambarkan sebagai pelari estafet yang memberikan tongkat estafetnya kepada pelari berikutnya, sehingga gema pujian itu sampai ke seluruh penjuru dunia. Istilah “sampai ke ujung bumi” itu memberikan gambaran bahwa tak ada yang terlindung dan tidak dapat mendengar pujian ini, sama seperti tak ada yang terlindung dari panas sinarnya matahari. Setiap generasi yang mau membuka mata hati pasti menyaksikan pujian itu. Keteraturan dan keagungan alam ini menandakan adanya hukum yang mengatur alam semesta, dan hukum yang sedemikian mengagumkan ini tentulah berasal dari Pribadi yang agung.

Setelah mengajak umat memperhatikan “hukum” yang ada di alam semesta ini, Pemazmur kemudian menyatakan keagungan “hukum” Allah di dalam Taurat. Seringkali kita memahami Taurat sebagai suatu perundangan yang mengatur perilaku manusia, sehingga Taurat tersebut bisa terasa membebani. Seharusnya tidaklah demikian, sebab Taurat itu berasal dari sebuah kata kerja yang berarti “menunjuk dengan jari” dan mula-mula berarti “petunjuk”, demikian Barth dan Pareira dalam buku tafsir mazmurnya. Bila seorang tiba pada persimpangan jalan di dalam hidupnya dan ragu-ragu tentang keputusan manakah yang harus diambil, ia meminta “tora” dari Allah melalui imam atau nabi-Nya, dan kepadanya diberitahukan apa yang harus ia lakukan. Dengan menyadari hakekat Taurat seperti ini, maka kita dapat memandang Taurat dengan jauh lebih positif. Dengan segenap hati kita dapat mengaminkan pernyataan Pemazmur bahwa Taurat TUHAN itu menyegarkan jiwa (ay. 8), titah TUHAN itu menyukakan hati (ay. 9), dan hukum-hukum TUHAN itu lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu yang murni.

Kalau kesaksian hukum alam nyaris tak terdengar, sehingga kadang manusia sulit melihat keagungan Tuhan, maka melalui Taurat kita dapat melihat dengan lebih jelas tuntunan Tuhan dan keagungan-Nya. Kiranya kita dapat belajar bukan hanya melihat keindahan dalam alam semesta, tapi juga melihat keindahan dalam Taurat Tuhan. keindahan Taurat Tuhan tentulah jauh lebih indah daripada keindahan alam semesta, sebab melalui Taurat Tuhan kita dapat mengenali arah hidup ini.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*