suplemenGKI.com

Rabu, 7 Juni 2017

06/06/2017

Kerja, Kerja, Kerja

Kejadian 1:26-2:4a

 

Pengantar

Beberapa tahun terakhir ini, ungkapan “Kerja, kerja, kerja” menjadi populer. Kondisi ekonomi Indonesia yang kurang bagus seakan menegaskan pula betapa pentingnya kita untuk kerja, kerja dan kerja. Pengulangan kata sebanyak tiga kali ini merupakan penegasan secara kualitas dan kuantitas. Hal ini melelahkan, dan terasa lebih melelahkan lagi pada waktu kita merasa “dikerjain” Allah, karena setelah kita kerja, kerja dan kerja, kok hasilnya tidak sebanding dengan usaha yang kita keluarkan. Lalu, bagaimana kita menyikapinya?

Pemahaman

Kej. 1:26-2:4       : Menurut Saudara, berdasarkan bacaan perenungan kita hari ini, apakah kerja itu sebuah berkah, atau musibah?

Manusia bekerja adalah rencana Allah sejak semula. Pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah sudah merencanakan agar manusia yang diciptakanNYA itu bekerja. “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut…” Mari kita perhatikan kutipan ayat 26 ini, terutama frasa yang saya garisbawahi, “…supaya mereka berkuasa…” Allah menciptakan kita supaya kita berkuasa. Pengertian berkuasa di sini bukanlah menjadi penguasa yang dapat bersikap sewenang-wenang, tetapi sebagai “manajer” yang mengelola. Pengertian yang sama juga menjiwai pernyataan dalam ayat berikutnya, “…penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah…”

Sekarang, mari kita mengingat bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah itu baik adanya. Pada bagian akhir kisah penciptaan di hari keenam, di mana manusia diciptakan, Alkitab memberi kesaksian, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam”. Kalau kita percaya bahwa penciptaan manusia itu baik adanya, maka patutlah kita juga percaya bahwa maksud Allah menciptakan manusia itu juga baik adanya. Hal itu berarti bahwa mandat yang Allah berikan agar manusia “berkuasa” itu bukanlah untuk membebani manusia, melainkan memberikan kesempatan untuk menyatakan kemuliaan Allah. Bukankah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga dunia dapat melihat pancaran kemuliaan Allah pada diri manusia?

Refleksi

Pada masa sekarang ini, bekerja bukanlah suatu perkara yang ringan, karena memang perlu kerja keras. Namun bekerja akan terasa lebih berat bila kita melihatnya sebagai sarana menjalankan tugas untuk mencari uang. Sebaliknya, saya percaya bahwa bila kita berangkat kerja dengan mengucap syukur karena diberi Allah sebuah kesempatan untuk berkarya bagi kemuliaan Allah, maka akan ada sukacita tersendiri dalam diri kita, yang pada akhirnya menjadi energi tambahan yang akan memompa semangat kerja kita.

Tekad

Doa: Ya Tuhan, tolonglah saya untuk berangkat kerja dengan keyakinan bahwa saya berangkat untuk berkarya bagi kemuliaan-MU. Amin.

Tindakan

Saya akan berangkat kerja dengan sukacita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»