suplemenGKI.com

Kejadian cocok sebagai kitab Perjanjian Lama yang pertama dan sebagai pendahuluan yang hakiki dari seluruh Alkitab. Judul kitab ini di dalam bahasa Ibrani diambil dari kata pertamanya, _bereshith_ (“pada mulanya”). Nama “Kejadian” merupakan terjemahan judul Ibrani itu ke bahasa Yunani dan berarti “asal mula, sumber, penciptaan atau awal dari sesuatu.” Kejadian merupakan “kitab permulaan.”

  1. Ayat 1: Apakah Allah sudah ada sebelum segala sesuatu tercipta?
  2. Ayat 2: Apakah sudah ada segala sesuatu sebelum Allah mulai mencipta?
  3. Ayat 3-5: Apa yang Allah lakukan untuk menciptakan terang?
  4. Bagaimana jawaban Anda untuk tiga pertanyaan di atas, simpulkan Allah seperti apa yang Anda percayai? (Ingatlah pula pada pembukaan Pengakuan Iman Rasuli yang Anda ucapkan).
  5. Bagaimana kesimpulan Anda tersebut, maka apa yang harus Anda lakukan sebagai umatNya? Apa yang tidak seharusnya Anda lakukan jika mempunyai Allah yang demikian?

 

Renungan

Kitab Kejadian menyatakan bahwa alam semesta dan hidup di bumi ini adalah jelas karya Allah dan bukan suatu proses lepas dari alam. 50x dalam pasal 1-2 Allah menjadi subyek dari kata kerja yang menunjukkan apa yang dilakukan-Nya selaku Pencipta. Demikian juga dengan makna kata “pada mulanya” bukan sekadar menunjukkan masalah waktu, tetapi menyatakan Allah adalah permulaan dari segalanya. Dan untuk menciptakan segala sesuatu, Allah cukup menyampaikan apa yang difirmankanNya dan semuanya terjadi (menjadi ada).  Semua ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang tiada bandingnya, dan semua ini juga menunjukkan kebergantungan ciptaan pada Allah sebagai pencipta.  Ada atau tidaknya kehidupan, terang dan gelap sepenuhnya ditentukan oleh Allah.  Karena itulah sudah seharusnya kita yang hidup sekarang tetap hidup dalam iman yang demikian, bahwa Allah itu Maha Kuasa dan Ia adalah Penguasa kehidupan kita. Iman kristiani diawali dengan pengakuan iman yang demikian kepada Allah, sesuai dengan Kejadian 1.  Dan hal ini pun tercantum dalam rumusan Pengakuan Iman Rasuli yang dibuka dengan kalimat, ”Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi…”   Jika itu yang menjadi pengakuan iman kita kepada Allah, maka kita tidak perlu kuatir dan larut dalam ketakutan akan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita di tahun 2009 ini, sebab Penguasa hidup kita adalah Allah yang Maha Kuasa.  Dan setiap kita memiliki penghayatan dan pengalaman masing-masing dengan kemahakuasaan Allah.  Mari belajar bukan hanya untuk percaya pada kemahakuasaan Allah, tetapi lebih lanjut dari itu adalah belajar mengambil langkah/keputusan demi keputusan untuk menyerahkan diri atau mempercayakan diri, rencana, dan masa depan kita pada kemahakuasaanNya.  Segala persoalan yang datang silih berganti menjadi kesempatan bagi Anda untuk makin bisa melihat dan mengalami kuasaNya atas hidup Anda.

 

Orang yang percaya pada kemahakuasaan Allah tidak pernah berusaha untuk menguasai sendiri seluruh rencananya, harta bendanya, pekerjaannya, dan juga orang-orang yang dikasihinya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*