suplemenGKI.com

BERANI BERPROSES UNTUK BERDAMAI

Mazmur 17:1-15

 

PENGANTAR
Sebaik apapun, realitanya ada saja orang-orang di sekitar yang menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kita.  Setiap kita pasti sudah berpengalaman dan memiliki cara tersendiri bagaimana bisa berdamai.  Apakah proses berdamai itu mudah dilakukan?  Tentu setiap kita memiliki jawaban masing-masing.  Tetapi apakah itu bisa dilakukan?  Jawaban kita harusnya sama: bisa.  Dalam perikop ini Daud bisa melakukannya, mau berproses mengupayakannya bersama Tuhan.  Mari kita renungkan!

PEMAHAMAN

  • Bagaimana Daud berani memaparkan hidupnya dan membandingkan siapa musuhnya  di hadapan Allah (ayat 3-5, 10)
  • Bagaimana doa Daud atas musuhnya? (ayat 14)
  • Bacalah secara perlahan teks hari ini.  Siapa diri kita di hadapan Tuhan?

Dalam sejarah perjalanan hidupnya, Daud pernah menghadapi seorang yang menganggap dirinya sebagai musuh, yaitu raja Saul.  Apakah masih ingat bagaimana Saul berusaha mengejar dan ingin membunuh Daud (1 Samuel 19)?  Saul dengan gigih pantang menyerah, selalu mencari cara agar tujuannya tercapai.  Bagaimana proses berdamai yang Daud lakukan?  Pertama: Daud menjaga hidupnya.  Daud sangat takut, gemetar menghadapi Saul dan berusaha lari agar terhindar dari niat jahat raja Saul.  Tetapi yang jauh lebih penting adalah Daud selalu berusaha menjaga hidupnya agar tidak melakukan yang tidak patut di mata Tuhan.  Setiap kali ada kesempatan yang baik untuk membalas dan membunuh Saul, Daud tidak mau menggunakan kesempatan itu.  Dia menghormati Saul sebagai raja yang dipilih Allah.  Dia takut kepada Tuhan walaupun Saul terus mengejar untuk membunuhnya.

Kedua: Daud memiliki cara pandang yang tepat bahwa Tuhan pribadi yang lebih tahu siapa dirinya dan musuhnya.  Mazmur 17 ini adalah salah satu dari hasil perenungan Daud ketika dia berada dalam kejaran Saul.  Daud berani menceritakan siapa dirinya di hadapan Allah.  Bukan sebagai sebuah kesombongan tetapi dia berani membuka hidupnya di hadapan Allah yang sanggup melihat apa yang benar dan menguji hati (ayat 1-3).  Dia berani mengatakan “Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan” (ayat 3), “aku telah menjaga diriku” (ayat 4), “langkahku tetap mengikuti jejak-Mu” (ayat 5).  Sejalan dengan itu Daud memaparkan di hadapan Tuhan siapa musuhnya dan apa yang sudah dilakukannya.  Bahwa musuhnya adalah pribadi yang: “tidak menunjukkan belas kasihan”, “membual”, “menghempaskan aku ke bumi” (ayat 10).  Seolah Daud ingin berkata “Tuhan, Engkau yang lebih tahu siapa diriku dan siapa dirinya, orang yang memusuhiku itu”.  Cara pandang itu membuat Daud mampu melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan bagi musuh sekalipun.

Ketiga: Daud menaikkan doa berkat, permohonan apa yang baik bagi musuhnya.  Ayat 14 “… biarlah perut mereka dikenyangkan dengan apa yang Engkau simpan, sehingga anak-anak mereka menjadi puas, dan sisanya mereka tinggalkan untuk bayi-bayi mereka.”  Bahkan dia berdoa bagi keturunan musuhnya.  

REFLEKSI
Mari merenungkan: Daud memiliki cara yang baik dan benar dalam proses berdamai dengan orang yang memusuhinya.  Yaitu menjaga hidupnya, memiliki cara pandang yang tepat bahwa Tuhan pribadi yang lebih tahu, dan menaikkan doa berkat.  Daud mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan yang sanggup melihat dan menguji hati.

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran firman-Mu.  Mampukan aku mau berproses untuk berdamai dengan siapa pun seperti firman-Mu hari ini.

TINDAKANKU
Aku mau memulai proses berdamai dan menemukan cara bagaimana berdamai dengan ………….. (sebutkan satu atau dua nama yang kepadanya saudara ingin berdamai).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«