suplemenGKI.com

Rabu, 6 Maret 2019

06/03/2019

BERPUASA YANG BENAR

Matius 6:16-18

 

Pengantar
Salah satu momen yang penting dalam iman Kristiani adalah masa Paskah. Kalender Paskah diawali dengan Rabu Abu, yang menjadi penanda mulainya minggu-minggu Prapaskah selama 40 hari, tanpa memperhitungkan hari Minggu hingga Sabtu Sunyi. Masa 40 hari ini selain sebagai pengujian diri juga sebagai masa pertobatan dengan melakukan puasa, bertarak, berpantang sebagai simbol menahan diri. Hari ini kita akan merenungkan tentang berpuasa yang benar.

Pemahaman

  • Ayat 16                  : Bagaimana pengajaran Yesus tentang berpuasa? Kesalahan apa yang dilakukan orang Farisi ketika berpuasa?
  • Ayat 17-18            : Bagaimana seharusnya sikap yang benar kita ketika berpuasa?
  • Dalam rangka memulai masa raya paskah tahun ini, Apa yang akan kita lakukan ketika berpuasa?

Dalam ayat ini, Tuhan Yesus mengajarkan tentang cara berpuasa yang benar. Ada banyak macam kesalahan dalam hal berpuasa, namun ayat 16 ini hanya menyoroti dari sisi motivasi. Orang-orang munafik melakukan dua hal supaya orang lain tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Pertama, mereka memasang wajah yang muram (Ay. 16a). Kata Yunani skythropos digunakan untuk menggambarkan kesedihan dan keputusasaan dua murid yang sedang memikirkan kematian Tuhan Yesus (Luk. 24:17). Seperti itulah wajah yang dipasang oleh orang-orang Farisi pada waktu mereka berpuasa. Mereka benar-benar terlihat sedang sangat murung. Kedua, mereka mengubah air mukanya (Ay. 16b). Secara hurufiah kata kerja aphanizo (LAI: TB “mengubah”) mengandung arti “merusakkan” (Mat. 6:20) atau “melenyapkan” (Kis. 13:41). Mereka mungkin menaruh kain kabung dan menaburkan abu di wajah maupun kepala mereka. Dua tindakan ini bertujuan supaya orang melihat mereka sedang berpuasa (Ay. 16c). Di mata orang lain mereka begitu saleh, mereka tampak berpuasa sungguh-sungguh. Namun apa yang mereka lakukan tergolong munafik, penampilan mereka tidak sesuai dengan motivasi mereka.

Ayat 17, Meminyaki kepala dan mencuci muka merupakan rutinitas setiap hari bagi orang-orang Yahudi. Tidak ada yang istimewa dengan dua tindakan ini. Dengan kata lain, Tuhan Yesus sedang menasehati para murid untuk berperilaku dan berpenampilan seperti biasa ketika berpuasa. Hal ini sesuai dengan tujuan dari nasehat “supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa” (Ay. 18a). Puasa bukanlah alasan untuk melarikan diri dari aktifitas dan tanggung jawab. Yang berbeda saat puasa bukan penampilan dan aktivitas, tetapi hati dan fokus hidup kita. Orang lain tidak perlu tahu kita berpuasa karena puasa adalah tentang kita dengan Allah. Puasa merupakan salah satu wujud pertobatan kita di hadapan Allah (Yoel 2:12).

Dengan perpuasa kita disadarkan dan diingatkan bahwa kita begitu lemah. Tanpa makan dan minuman saja kita tidak berdaya, apalagi hidup tanpa Tuhan. Dengan berpuasa kita belajar untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga kita dapat berfokus pada Allah. 

Refleksi
Renungkanlah: Apakah motivasi kita berpuasa selama ini? Puasa adalah wujud pertobatan kita di hadapan Allah. Mari kita lakukan dengan motivasi yang benar untuk semakin dekat dengan Allah.

Tekadku
Ya Tuhan tolong saya untuk bisa mengawali masa Prapaskah ini dengan berpuasa dengan sikap yang benar, bisa mengendalikan hawa nafsu untuk semakin berfokus pada-Mu.

Tindakanku
Saya akan mulai masa Prapaskah ini dengan berpuasa atau berpantang dan mempersembahkan dana (hasil puasa/pantang) dengan setia di sampul penyangkalan diri.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«