suplemenGKI.com

Rabu, 5 Juni 2019

04/06/2019

Roma 8:14-17

ANAK ALLAH BUKAN ANAK MANJA

PENGANTAR
Hidup sebagai anak Allah, apa artinya?  Sebagian orang Kristen berpikir bahwa status sebagai anak Allah akan memberi mereka hak dan kesempatan untuk hidup sebagai “anak manja”, dengan berbagai fasilitas atau kemudahan yang membebaskan mereka dari kesulitan hidup. Benarkah demikian?

PEMAHAMAN

  • Ay. 14-15.  Apa yang dimaksudkan “roh perbudakan” dan rasa “takut” yang disebutkan Paulus di ayat 15?  Apa hubungannya dengan status sebagai anak Allah?
  • Ay. 16-17.  Paulus menyebut kita sebagai “ahli waris.”  Menurut Anda, apa artinya?  Apa hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari?

Istilah ”roh perbudakan” yang digunakan Paulus di sini tidak lepas dari ayat-ayat sebelumnya (Rom. 8:1-13). Kewajiban melakukan hukum Taurat dengan bayang-bayang rasa takut (takut terhadap dosa dan takut terhadap hukuman dosa, yaitu maut) itulah yang membuat Paulus menyebut hukum Taurat sebagai ”roh perbudakan.” Di awal perikop ini Paulus telah menegaskan bahwa Roh Allah telah memerdekakan mereka dari hukum dosa dan hukum maut (ay. 2). Penjelasan itulah yang dilanjutkan di ayat 15. Setelah merdeka dari status budak, orang-orang percaya mendapatkan status baru sebagai anak. Budak dan anak adalah dua status yang sangat berbeda, khususnya dalam hal ketaatan. Ketaatan seorang budak diikat oleh kewajiban terhadap tuannya, sedangkan ketaatan seorang anak dibangun melalui hubungan dengan ayahnya. Roh Kudus disebut sebagai ”Roh yang menjadikan kamu anak”, atau secara hurufiah berarti ”Spirit of adoption” (Roh adopsi, atau Roh yang mengadopsi). Istilah ini menegaskan kokohnya hubungan kita dengan Bapa.

Status sebagai anak-anak Allah juga membawa kita pada posisi selanjutnya, yaitu sebagai ahli waris (ay. 17a). Sebagai ahli waris, kita berhak menerima janji-janji Allah bersama-sama dengan Kristus (ay. 17b).  Namun, janji-janji itu baru akan kita terima ”jika kita menderita bersama-sama dengan Dia” (ay. 17c). Dengan demikian, ”Spirit of adoption” itu akan memberi kita keberanian dan kekuatan untuk menghadapi dua musuh besar kita, yaitu dosa dan penderitaan.  Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk gampang menyerah melawan dosa. Juga, tidak ada alasan bagi kita untuk berpikir bahwa dengan status anak Allah kita bisa menjadi anak manja.

REFLEKSI
Apakah Anda sudah menggunakan status Anda sebagai anak Allah untuk memperkuat daya juang Anda dalam melawan dosa dan menghadapi penderitaan?

TEKADKU
Tuhan, mampukanlah aku membangun hubungan yang lebih dekat dengan-Mu agar kualitas hubunganku dengan-Mu semakin baik, dan aku semakin gigih berjuang melawan dosa dan menghadapi penderitaan.

TINDAKANKU
Dalam sebulan ke depan aku akan berusaha lebih serius untuk melawan salah satu dosa yang selama ini paling sulit kuatasi, yaitu … … … … … . Untuk itu, aku akan melakukan langkah-langkah ini: 1) memperbaiki hubunganku dengan Tuhan, 2) memohon pertolongan Roh Kudus, 3) mengambil komitmen dan langkah-langkah yang diperlukan untuk meninggalkan dosa tersebut.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»