suplemenGKI.com

BERSEHATI SIANG MALAM

Bacaan
1 Tesalonika 3 : 10 – 13

Pengantar
Ungkapan “Siang Malam” sering diartikan serupa dengan “Suka Duka”, atau juga “Terang Gelap”. Ungkapan-ungkapan ini dapat menggambarkan tentang dua keadaan yang berlawanan, tapi dapat juga menggambarkan tentang suatu keadaan yang utuh dan tidak terpisahkan. Lalu bagaimana dengan komunikasi kita dengan TUHAN, hanya pada situasi tertentu saja atau di segala keadaan tanpa terputus?

Pemahaman
Ayat 9 : Apakah maksud Rasul Paulus mengungkapkan: “Ucapan syukur  apakah yang dapat kami persembahkan kepada ALLAH”?
Ayat 10 – 11 : Bagaimana kehidupan doa Rasul Paulus?
Ayat 12– 13 : Apa saja harapan Rasul Paulus yang sekaligus merupakan ‘permohonan berkat’ bagi Jemaat di Tesalonika?

Ungkapan Rasul Paulus dalam ayat 9 tersebut bukan sesuatu yang membutuhkan jawaban, tapi justru memperlihatkan betapa besar kasih TUHAN yang tak mungkin dibandingkan dengan persembahan apapun, kasih TUHAN yang telah memberikan sukacita besar. Sukacita besar bukan karena sesuatu yang diberikan kepada Rasul Paulus dan mitra pelayanannya, tapi karena kehidupan iman Jemaat di Tesalonika yang berkenan di hadapan ALLAH.

Bahkan kehidupan iman yang ‘telah’ berkenan kepada ALLAH itu masih terus ingin didukung dengan kerinduan untuk bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang yang masih kurang dalam kehidupan iman Jemaat di Tesalonika, yang dinyatakan dalam doa yang sungguh-sungguh pada siang dan malam. Inilah yang dapat kita sebut sebagai sehati siang malam. Tentu tidak saja karena hatinya yang tertuju pada Jemaat di Tesalonika, atau kesehatian Rasul Paulus dan Mitra Pelayanannya dalam berdoa, tapi juga kesehatian dalam hubungan yang terus menerus dengan TUHAN.

Harapan Rasul Paulus dapat dimaknai sebagai permohonan berkat, yang mana dapat kita lihat tidak ditujukan secara individual atau pribadi tapi secara komunal (kebersamaan), bagi semua orang yang telah dikuduskan hidupnya.

Biarlah penantian kita di masa adven tidak hanya menjadi penantian pribadi kita, tapi dalam semangat kesehatian dengan segenap percaya, yang tidak hanya sewaktu-waktu tapi setiap saat. Kita sebut saja : “Sehati siang malam”

Refleksi
Renungkanlah waktu-waktu komunikasi Saudara dengan TUHAN! Apakah hanya pada saat-saat tertentu saja? Bersama siapa saja Saudara pernah berdoa? Hal-hal apa saja yang biasanya Saudara komunikasikan kepada TUHAN, apakah hanya perkara pribadi Saudara saja?

Tekadku
Aku akan berusaha menjalin komunikasi dengan TUHAN dalam setiap waktu dan segala cuaca kehidupan, tidak hanya untuk hal pribadiku, tapi juga dalam kebersamaan dengan orang lain.

Tindakanku
Aku akan berdoa bagi orang lain pada waktu pagi, siang, sore, dan malam pada hari ini, masing-masing sekitar 10 menit, dan juga mulai menjadwal waktu doa bersama orang lain seminggu sekali.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«