suplemenGKI.com

Rabu, 5 April 2017

04/04/2017

Kristus, Sang Hamba yang Terbuang, Ditinggikan oleh Allah Bapa

Mazmur 118:1-29

Pengantar

Paulus ketika memberi nasihat kepada Timotius tentang keadaan akhir jaman, pernah mengingatkan bahwa, “… setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, ..” (2 Tim 3:12). Bahkan Tuhan Yesus sendiri juga mengatakan, seperti tertulis dalam Yohanes 15:28-29, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”. Kalau memang penderitaan itu pasti akan dialami setiap orang percaya, maka pertanyaannya bagaimana kita harus menyikapinya. Mari kita belajar dari Pemazmur bagaimana kita harus bersikap.

Pemahaman

Ayat 1-21             :Bagaimana seharusnya orang percaya senantiasa bersikap dan berkata-kata seperti ajakan Pemazmur?

Ayat 22-23 : Siapa yang dimaksudkan oleh Pemazmur dengan Batu yang dibuang? Apa yang Allah lakukan terhadap Batu yang dibuang itu?

Ayat 24-25 : Hari apakah yang dimaksudkan dalam Ayat 24? Apa yang diharapkan Pemazmur ketika “hari” itu tiba?

Ayat 26-29 : Bagi siapa berkat dan terang itu diberikan oleh Allah?

Menghadapi penderitaan dan aniaya, setiap orang percaya justru harus bersyukur dan menaikkan puji-pujian KepadaNya. Kita perlu selalu menyadari, bahwa kasih setia Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Melalui penderitaan dan aniaya, pintu gerbang kebenaran akan dibukakan bagi kita (Ayat 19). Kiranya kita juga selalu mengingat, bahwa Kristus telah terlebih dahulu mengalami penderitaan dan aniaya daripada kita. Namun pada akhirnya “Batu” yang dibuang orang itu (Sang Hamba yang taat, yakni Kristus) telah dijadikan “batu penjuru” dan mendatangkan hari keselamatan yang penuh dengan perkenanan Tuhan. Ketika “hari” itu tiba, Pemazmur berharap akan anugerah keselamatan dan kemujuran dari Allah sehingga ia boleh terus bersyukur bahwasanya Allah baik dan ia boleh senantiasa memuliakan Tuhan.

Refleksi

Sudahkah aku hidup seperti Kristus yang rela menjalani hidup sebagai Hamba Allah yang taat dalam penderitaan sekalipun?

Tekad

Belajar dari Pemazmur yang bisa memilih sikap yang tepat saat menghadapi penderitaan dan bahkan aniaya.

Tindakan

Tetap taat sebagai hamba-Nya sekalipun harus aku menderita oleh karena Nama-Nya agar nama Tuhan dimuliakan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«