suplemenGKI.com

Mazmur 127:1-2

 

Ketergantungan Para Peziarah

Pengantar:
Ada seorang pemuda, sejak usia sepuluh tahun sering diajak ayahnya pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Keluarga tersebut memang penghasilannya hanya dengan menjual kayu bakar yang diperoleh dari hutan. Suatu ketika pemuda tersebut pergi ke hutan sendirian tanpa bersama dengan ayahnya. Dia merasa sudah bisa pergi ke hutan tanpa disertai oleh ayahnya. Setelah seharian keliling di hutan mencari kayu, menjelang sore ia hendak pulang membawa kayu-kayu itu, namun dia rupanya tidak bisa mengingat arah pulang, dan dia juga tidak mengerti arah mata angin, sehingga ia bingung sebenarnya dia sedang berada di posisi: barat, timur, utara atau selatan. Pemuda malang itu kemudian sadar bahwa dia telah tersesat.

Pemahaman:

  1. Apakah yang hendak ditekankan dalam Mazmur 127 ini?
  2. Apa maksud pemazmur mengulang kata “Sia-sialah” sebanyak tiga kali pada ayat 1-2 ini?

Mazmur 127 ini merupakan Mazmur didikan yang mempunyai ciri khas ajaran sastra hikmat. Didikan ini bersifat umum, tetapi jika diteliti secara dalam, Mazmur didikan hikmat ini mempunyai penerapan secara khusus sebagai nyanyian rakyat dan para peziarah. Mazmur ini sangat terkait dengan hidup manusia yang adalah sebuah perjalanan ziarah yang kerap kali menghadapi tantangan, kesulitan dan cobaan. Tidak jarang manusia mengarungi hidupnya dengan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, karena merasa sudah mampu dan bisa.     Pemazmur menekankan bahwa perziarahan hidup ini, tidak mungkin bisa dilakoni, dilalui atau diupayakan hanya mengandalkan kekuatan, kemampuan dan kepiawaian sendiri, mengingat begitu berat, sulit dan banyaknya cobaan di dalam perjalanan ziarah ini. Jika manusia merasa bahwa dia mampu, sanggup menjalani perziarahan dengan kekuatan sendiri, maka itu akan sia-sia. Itulah sebabnya dalam ayat 1-2 kata “sia-sialah” diulangi sebanyak tiga kali, menekankan bahwa percuma kita mengandalkan diri sendiri, apapun usaha, karya dan upaya kita, itu akan menjadi sia-sia. Jika demikian tidak ada cara lain selain bergantung kepada Tuhan. Bergantung kepada Tuhan artinya kita harus selalu berjalan bersama Tuhan, mengandalkan Tuhan. Kebergantungan mutlak kepada Tuhan dalam perziarahan hidup itu adalah kunci untuk menuju pencapaian yang gemilang.

Refleksi:
Ketika seseorang merasa sudah mampu, kuat dan mandiri karena punya pengetahuan, kekayaan, kedudukan sehingga merasa tidak butuh Tuhan, berarti dia sedang berjalan dalam kesia-siaan. Agar tidak menjadi sia-sia selalulah bergantung pada Tuhan.

Tekad:
Kita adalah para peziarah dalam hidup ini, mari bergantung kepada kekuatan Tuhan dalam menjalani hidup yang sulit ini.

Tindakkan:
Dalam setiap langkah hidup, karya dan karsa saya berketetapan untuk terus bergantung pada kekuatan Tuhan, agar hidup saya tidak menjadi sia-sia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*