suplemenGKI.com

Rabu, 4 Juli 2012.

03/07/2012

Mazmur 123:3-4

 

Sikap Terhadap Tuhan Yang Penuh Pengertian

            Kepekaan untuk menangkap atau menilai apakah seseorang penuh pengertian atau tidak memang bukan hal yang mudah. Terkadang kita merasa bahwa seseorang entah itu teman, sahabat, rekan, saudara atau bawahan bahkan majikan kita adalah orang yang penuh pengertian tetapi ternyata kita salah. Sebaliknya kita sering menyangka ada orang-orang tertentu yang sama sekali tidak mempunyai pengertian terhadap kita hanya dengan melihat sekilas sikapnya terhadap kita, tetapi ternyata di balik itu orang tersebut adalah penuh pengertian.

Kemarin kita telah belajar bagaimana bersikap yang benar terhadap Tuhan yang penuh anugerah dari pemazmur, hari ini kita kembali belajar bagaimana sikap pemazmur terhadap Tuhan yang menuh pengertian.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apa maksud pemazmur dengan permohonan yang sifatnya mengulangi kalimat “Kasihilah kami” sebanyak dua kali dalam ay. 3a?
  2. Apa pula maksud ungkapan keluhan secara beruntun perihal penderitaan yang dialaminya, ay. 3b-4!
  3. Pernahkah saudara merasa bahwa Tuhan tidak berpengertian terhadap kesulitan saudara?

 

Renungan:

Sekilas kita bisa menilai doa pemazmur adalah doa yang mendesak, merengek, mengadu atau menuntut karena isi doa yang bersifat pengulangan dan permohonan beruntun dari penghinaan – pengolok-olokan. Kemudian dari orang yang sekedar tidak peduli kepadanya sampai pada sikap orang yang sombong kepadanya. Tetapi kita akan segera mengerti jika kita amati secara dalam ungkapan-ungkapan pemazmur itu. Kalimat “Sebab kami sudah cukup kenyang…jiwa kami sudah cukup kenyang…” itu memberikan petunjuk bahwa pemazmur adalah orang yang sudah berjuang menjalani, melewati dan menghadapi kesulitan demi kesulitan dalam hidupnya. Bahkan mungkin sudah cukup lama bergelut dengan pergumulan yang berat. Sampai ia merasa sudah saatnya, sudah bukan bagiannya lagi untuk mengatasi setiap pergumulan itu. Pemazmur seolah ingin mengatakan kesulitan, pergumulan dan penderitaan yang dideritanya sudah bukan porsinya lagi, itu sebabnya dia mengadu, mengeluh dan berseru kepada Tuhan. Pemazmur tahu bahwa Tuhan sudah siap mengambil alih untuk mengatasi persoalan, pergumulan dan kesulitannya. Sikap itu menunjukkan kepekaan pemazmur tentang kapan harus mengadu kepada Tuhan, kapan saat dirinya harus hanya berdiam diri dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Pemazmur tidak terpancing menjadi pribadi yang cengeng, manja dan memanfaatkan Tuhan dalam menghadapi pergumulannya. Hal lain yang ingin disampaikan pemazmur adalah, sebuah keyakinan imannya bahwa Tuhan itu sangat mengerti batas kemampuannya, Tuhan sangat mengerti kebutuhan yang hakiki dalam dirinya. Itu sebabnya Pemazmur tidak berniat mengelabui Tuhan dengan bersikap cengeng, memelas dan memanfaatkan Tuhan.

Seringkali kita sebagai anak-anak Tuhan, merasa Tuhan tidak berpengertian terhadap pergumulan kita. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah tidak berpengertian terhadap pergumulan kita. Sekecil apapun dan sebesar apapun persoalan kita Tuhan selalu mengerti. Persoalannya adalah terkadang kita yang terlalu manja, cengeng dan mencoba memanfaatkan Tuhan. Sedikit saja ada masalah yang seharunya kita masih punya kekuatan untuk menghadapinya, tetapi kita malah lebih cepat menyerahkannya kepada Tuhan, apalagi yang besar. Belajar dari pemazmur yang peka terhadap pengertian Tuhan, maka biarlah kita menjalani hidup dengan penuh keyakinana bahwa Tuhan dari dulu sampai selama-lamanya tetap mempunyai pengertian kepada keadaan kita. Tuhan tahu kapan Ia akan bertindak menolong kita dan kapan ia diam untuk mendidik kita menjadi kuat menghadapi pergumulan hidup. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*