suplemenGKI.com

Ukuran Kebanggaan Sebagai Milik Allah

(Mazmur 33:16-22)

Pesta Piala Dunia Afrika Selatan baru saja berakhir pada 11 Juli 2010 yang lalu. Setelah berlangsung kurang lebih selama satu bulan. Tetapi tahukah saudara berapa lama persiapan Negara-negara yang berhasil lolos ke putaran final piala dunia itu? Boleh dibilang persiapan masing-masing kontestan/peserta hampir memakan waktu rata-rata 2-4 tahun. Mulai dari pemantauan bakat para pemainnya, sampai pada penentuan skuad negaranya, itu kurang lebih demikianlah waktunya.

Setelah melewati seleksi yang sangat ketat, ada pemain yang sangat ingin masuk dalam skuad negaranya tetapi karena dianggap kurang mampu maka dicoret namanya oleh pelatihnya. Sampai terpilih yang benar-benar dipandang berkualitas. Dari sekian banyak pemain yang terpilih (dari satu Negara 23 orang) pasti ada paling tidak 2 sampai 3 orang yang digadang-gadang nantinya akan menjadi pahlawan dan penentu kesuksesan timnya. Contohnya: Inggris sangat bergantung pada Wyne Rooney-nya, Portugal dengan Christiano Ronaldo-nya dan Argentina dengan Leonel Messi dan Higuaian-nya. Begitu juga dengan Negara-negara lainnya. Tetapi apa yang terjadi, nama-nama yang diharapkan akan menjadi pahlawan dan roh dari tim-tim tersebut ternyata sangat melempem dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi bagi Negara-negara yang ternyata lebih bertumpu pada kebersamaan seperti Spanyol, Belanda dan Jerman justru meraih prestasi gemilang. Karena mereka tampil dengan semangat bagi Negara bukan pribadi, itu jauh lebih baik, yang mereka pandang adalah supremasi kebanggaan bagi bangsanya, di sanalah mereka setia dan mengabdi.

  • Apa yang saudara pahami dengan pernyataan pemazmur di ayat 16-17?
  • Bagaimana seharusnya ungkapan kebanggaan kita terhadap Allah yang jauh lebih berkuasa dan berotoritas dibandingkan raja ataupun kuda yang selalu menjadi andalan manusia? (18-22)

Renungan:

Status khusus dalam diri seseorang seringkali tidak terlepas dari prestasinya dalam suatu karya atau karier.  Misalnya status sebagai juara dalam suatu bidang, status kehormatan karena jasanya pada suatu bidang. Tetapi berbeda dengan status yang disandang oleh umat Israel sebagai umat Allah, itu diberikan oleh Allah sama sekali bukan karena faktor subjek mereka tetapi oleh karena kemurahan Allah.

Maka sepantasnyalah umat Israel meresponi anugerah Allah itu dengan sikap yang takut dan taat kepada Tuhan. Inti dari takut dan taat kepada Tuhan itu harus diwujudkan melalui pengandalan mereka kepada Tuhan.

Dalam ayat. 16-17, kita jumpai ada suatu kekuatan yang di luar Tuhan (raja dan kuda) raja lebih mengarah pada kekuasaan karena statusnya sebagai penguasa saat itu. Biasanya seroang raja pada saat sedang berkuasa/memimpin, ia akan memanfaatkan status itu untuk menekan, menindas dan menguasai orang lain demi kepentingan pribadi atau kekuasaannya. Segala cara dapat dilakukan demi mencapai keinginannya, walaupun harus merugikan orang lain. Bagaimana dengan kuda, hewan yang kuat dan cepat sehingga sering menjadi andalan dalam suatu peperangan untuk tujuan menguasai orang lain/pihak musuh.

Tetapi sering kali tidak disadari bahwa kuda adalah hewan yang tidak selalu bisa diandalkan.

Intinya pemazmur hendak menasihati kita supaya kita jangan membanggakan erjay-unsur yang fana untuk kesuksesan. Mungkin itu uang, harta, kedudukan atau orang kuat dll. Semuanya sia-sia dan akan lenyap.

Tetapi yang menjadi penekanan kebanggaan kita sebagai orang percaya adalah ketika kita terus belajar takut akan Tuhan dan setia kepada-Nya dalam seluruh hidup kita. Bukan saja hanya pada saat kita butuh Tuhan tetapi dalam keadaan senang, erjaya, sukses, atau bahkan ketika kita dalam kegagalan. Tetap harus terus mengandalkan Tuhan. Ayat. 21. “Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepadaNya yang kudus kita percaya” sebuah ungkapan yang mengindikasikan bahwa di dalam Tuhan apapun keadaannya kita tetap bisa bersukacita. Itulah ukuran kebanggaan kita bersama dengan Tuhan.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapanya kepada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air…yang tidak kuatir akan tahun-tahun kering”

(Yeremia 17:7-8)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«